Perempuan yang Dirindukan Surga
Anak-anak bersorak kegirangan. Mereka segera berlari menuju lapak penjual makanan.
“Anak-anak, jangan berpisah ya. Aduh, Aku nemenin anak-anak dulu ya,” pamit Namira.
“Nam, ini uangnya,” ujar Humaira seraya memberikan dompet ke Namira.
Namira mengucapkan terima kasih dan segera mengejar anak-anak yang sudah berpisah-pisah.
“Aku juga mau jaga anak-anak ya, takutnya mereka kesasar,” pamit Hamdan juga pergi. Kini tinggal Humaira dan sandi berdua di dekat penjual gorengan.
“Mas Sandi enggak ikut memilih menu buka puasa?” tanya Humaira kepada Sandi.
“Dari pada sibuk memilih menu buka puasa, aku lebih memilih menua bersama mu Mbak,” celetuk Sandi sambil tersenyum.
“Mas Sandi makin jadi ya,” ujar Humaira terkekeh mendengar gombalan receh Sandi.
“Kalau aku berniat menjadi kan Mbak makmum sholat ku bagaimana?” tanya Sandi seraya menatap wajah Humaira namun tersadar dan segera menundukkan pandangannya.
Tentu Humaira tau apa arti dari kalimat yang diajukan Sandi. Tetapi, Apakah pantas dirinya yang buta dan banyak dosa ini bersanding dengan Sandi yang paham agama?
“Kenapa memilihku? Bukankah di luar sana masih banyak perempuan yang sehat fisiknya dibandingkan aku yang buta?” Humaira malah mengajukan pertanyaan.
“Karena aku yakin, kamulah perempuan yang Allah takdirkan untukku. Aku memilihmu bukan karena fisik, Melainkan karena kebaikan hatimu,” jawab Sandi tulus.
“Terima kasih atas ketulusan mu Mas Sandi. Tetapi, tak bisa aku jawab sekarang. Tolong berikanlah aku waktu untuk sholat istikharah,” ujar Humaira tersenyum sambil menunduk wajahnya.
“Aku harap, Jawabnya sesuai keinginanku Humaira,” gumam Sandi seraya menatap langit yang mulai mengeluarkan warna jingga menyejukkan hati.
***
Saat ini, Seluruh anak-anak panti bersiap untuk pergi sholat Isya dan tarawih di mushola.
Humaira nampak begitu cantik dengan mukena berwarna putih. Ia berjalan bersama-sama dengan Bu Asma selaku ibu panti, Namira dan anak panti yang perempuan.
Malam itu, mereka bagaikan bidadari surga yang cantik nan anggun saat berjalan bersama-sama.
Mereka memasuki mushola. Terdengar suara azan berkumandang. Begitu menyejukkan hati yang mendengarkan.
Malam itu, sholat Isya di jalankan secara berjamaah. Setelah selesai, mereka melanjutkan ibadah sholat tarawih berjamaah.
Kali ini, Imamnya adalah Sandi. Seorang pemuda tampan sekaligus guru ngaji di panti asuhan.
Humaira dalam sujud menangis. Ia terharu karena dapat merasakan nikmatnya beribadah di bulan suci Ramadhan.
Siapa yang tidak merasa bahagia? Karena di bulan ramadhan semua doa-doa hambanya akan dikabulkan oleh Allah SWT.
Sujud terakhir dalam sholat tarawih, Humaira berdoa dalam hatinya seraya terisak.
“Ya Rabb, maafkan hambamu ini. Maafkan atas segala perbuatanku di masa lalu. Tolong terimalah amal ibadahku. Terimalah aku di surga mu yang begitu mulia. Jadikanlah aku, sebagai mana perempuan yang di rindukan surga. Aamiin ya rabbal allaamiin,”
Humaira terus menangis. Saat Imam beralih ke gerakan tahiyat akhir.
Humaira tak kunjung bangun dari sujudnya. Ia begitu lama bersujud. Bahkan, Saat imam menggerakkan kepalanya salam ke kanan dan ke kiri, Humaira juga tak bangun dari sujudnya.
Asma yang duduk di dekat Humaira merasa khawatir. Ia menyentuh punggung Humaira seraya menggerakkan tubuhnya pelan.
“Humaira,” panggil Asma pelan. Namun Humaira tak juga menyahutinya. Asma semakin khawatir, ia menggerakkan tubuh Humaira sedikit kencang hingga akhirnya tubuh Humaira terjatuh ke pangkuannya.
Terlihat, wajah Humaira yang tersenyum manis dengan air mata yang masih membekas di pipinya. Kedua matanya tertutup rapat.
Asma berusaha menggerakkan tubuh Humaira. Ia menepuk pipi Humaira, masih sama tak ada respon.
Namira pun ikut membantu. Ia mendekatkan jarinya ke hidung Humaira, Tak ada hembusan nafasnya.
Namira menyentuh denyut nadi Humaira di tangan nya, tidak ada yang berdetak. Pertanda, Tidak ada kehidupan lagi.
“Innalilahi wa innailaihi rojiun. Humaira telah meninggal dunia dalam keadaan sujud di rakaat terakhir shalat terawih Bu,” ujar Namira sambil menagis.
Saat itu juga terdengar teriakan anak-anak perempuan yang membuat barisan laki-laki terkejut. Mereka segera menuju barisan perempuan.
“Ada apa Bu?” tanya Sandi khawatir.
“Humaira telah dipanggil Allah dalam keadaan yang sangat mulia. Yaitu waktu sujud di rakaat terakhir,” jawab Asma dengan terisak.
Saat itu juga, lutut Sandi bagaikan jelly. Ia terjatuh dengan menatap jenazah Humaira dengan tatapan sendu.
“Ternyata, Allah lebih dulu menjemputmu Humaira sebelum aku menikahmu,” gumam Sandi sambil meneteskan air mata nya.
“Masya Allah, sungguh beruntung kamu Nak. Meninggal di bulan Ramadhan dan menjadi perempuan yang dirindukan surga,” gumam Asma sambil terus meneteskan air mata nya.
Selesai
Khoiriah Apriza, Siswi SMAN 1 Airgegas yang tinggal di Desa Tepus Kecamatan Airgegas ini sejak SD sudah aktif menulis cerita. Hingga kini ia telah menerbitkan 5 buku antologi cerpen dan 1 single kumpulan cerpen yang berjudul Ayah, Aku Rindu

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.