Ramadhan Kali Ini, Tak Ada Kurma di Rumah Pak Ustad
Kami yang hadir cuma terdiam. Membisu. Tak sepatah katapun keluar dari mulut kami.
Guru ngaji kami ini sepertinya sudah membaca tanda-tanda keheranan dari kami para muridnya.
Tokoh agama terpandang di kampung ini seolah sudah memahami apa yang ada di otak kami. Guru ngaji yang biasa kami panggil dengan sebutan Pak Ustad itu tampaknya sudah merasakan apa yang ada dalam otak kami.
Tak pelak sebelum acara berbuka puasa sore itu dimulai, saat lembayung dengan warna kemerah-merahan itu ditutupi awan nan membiru, Pak Ustad mulai berbicara. Memberikan kultumnya.
” Saya sudah tahu apa yang kalian rasakan semuanya? tentang buah kurma kan?” ujar Pak Ustad setengah bertanya.
Kami terdiam. Hening, tak seorang pun yang bersuara. Desis suara pun seolah tertahan di kerongkongan. Apalagi menjawab pertanyaan tokoh ulama Kampung yang kharismatis itu.
Melihat wajahnya pun kami seolah tak berani, seakan-akan ikut merasakan derita yang dialami Pak Ustad.
“Bukannya saya tak mau menyediakan buah kurma sebagai sajian berbuka puasa kita. Bukan sama sekali. Buah kurma yang datang sangat banyak. Sangat cukup buah kurma itu untuk kita berbuka puasa selama sebulan. Namun saya tak mau memberikan buah kurma itu untuk menu kita berbuka puasa kalau tak halal,” ujar Pak Ustad.
Kami yang tadinya terdiam dan membisu bak patung, kini mulai bersuara. Mulut kami yang tadinya tertutup rapat, kini mulai berdesis.
Nada koor Oh bergemuruh kencang dari mulut kami. Mengingatkan akan sebuah drama paduan suara koor setuju wakil rakyat di lembaga terhormat saat sedang mengesahkan sebuah produk undang-undang.
Pak Ustad lantas mengisahkan bagaimana kalau selama ini buah kurma yang datang setiap tahun itu dan sebagai menu buka puasa itu berasal dari sumbangan seseorang tokoh yang terjerat kasus korupsi. Tokoh terkenal itu dulunya merupakan murid Pak Ustad .
“Saya tak mau lagi menghidangkannya sebagai menu buka puasa kita karena saya tahu sumber pendanaanya dari hasil korupsi. Saya tak mau menu berbuka puasa dari sumbangan yang tak halal. Saya tak mau, tidak ada berkahnya buat kita,” lanjut pak Ustad.
“Lebih baik kita menikmati sajian menu berbuka puasa dari hasil kebun kita sendiri diri tapi halal dan rasanya pun nikmat,” lanjut Pak ustad.
Dan tiba-tiba bedug magrib pun terdengar. Kami pun segera meneguk minuman yang tersaji untuk membatalkan.
Rasanya nikmat sekali. Apalagi menu hari ini sungguh berbeda. Ada rebus ubi dan rebus jagung yang diambil dari kebun Pak Ustad. Sungguh berbuka puasa kali ini begitu nikmat.
Sementara saat kami meninggalkan rumah pak Ustad, tampak beberapa karung tergeletak disudut rumah tokoh agama itu.
Mungkin itu karung yang berisikan buah kurma yang tak akan lagi menjadi ciri khas kami saat berbuka di rumah Pak Ustad.
Toboali, 27 Ramadan 1444 H/ 18 April 2023
Rusmin Sopian, Ketua GPMB, Penulis, Mantan Jurnalis, Pegiat Literasi Kabupaten Bangka Selatan

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.