Pesona Pesta Budaya Tujuh Likur Desa Mancung Bangka Barat
BANGKA BELITUNG, TIMELINES.ID — Dalam rangka menyambut datangnya malam penuh keistimewaan yaitu malam Lailatul Qadar, masyarakat Desa Mancung Kecamatan Kelapa bahu membahu mengemas serangkaian kegiatan tradisi Tujuh Likur.
Tepat di hari puncak Tujuh Likur Ramadan 2023, warga Desa Mancung juga menyambut kedatangan Wakil Bupati Bangka Barat Bong Ming Ming beserta jajaran. Dengan tarian sambut yang dibawakan pemuda-pemudi setempat, dan setelah berbuka puasa serta menunaikan sholat Magrib pada malam puncak Tujuh Likur, secara simbolis Wakil Bupati Bangka Barat bersama jajaran dan tokoh masyarakat setempat menyalakan api likur di gapura, Senin (17/04/23).
Festival adat Tujuh Likur menyuguhkan beberapa bentuk gapura indah dengan desain beraneka ragam seperti gambar masjid, bunga teratai, serta bentuk-bentuk lainnya yang mengisyaratkan bahwa walaupun berbeda-beda tetapi dipersatukan dengan bulan puasa Ramadan.
Kegiatan tradisi Tujuh Likur sudah dimulai sejak tanggal 15 April yang lalu, hingga malam puncaknya pada 17 April 2023.
Rangkaian acara dibuka dengan doa, tartil al-Quran, serta pertunjukan tarian dari pemuda-pemudi Desa Mancung, dan tidak ketinggalan, ikut dimeriahkan dengan penampilan Band D’jiran dan Gama Band.
Bong Ming Ming dalam sambutannya mengatakan, seni dan budaya itu bisa bertahan apabila komitmen dari masyarakatnya, terutama pemuda, bersatu untuk melestarikan budaya tersebut.
“Bukan soal besar dan kecilnya, tetapi keyakinan dan keteguhan hati mereka untuk mempertahankan budaya tersebut,” tuturnya seperti dikutip bangkabaratkab.go.id
“Salah satu contohnya adalah budaya Tujuh Likur yang ada di Desa Mancung ini, sudah bertahun-tahun ini terselenggara dan saya berbangga hati, karena saya lihat yang melakukannya bukan lagi orang-orang tua tetapi anak-anak muda, mulai dari kolosalnya yang diciptakan sendiri, dan ini patut dipertahankan,” tambahnya.
Awalnya, tradisi adat ini dilaksanakan untuk menandai awal bulan suci Ramadan, hingga menuju puncaknya yaitu saat menghujung akhir bulan puasa tersebut sendiri.
“Berdasarkan keterangan dari pendahulu Desa Mancung, semangat daripada Tujuh Likur ini adalah untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Para Ulama dulu yang ada di Desa Mancung menghitungnya dari hari pertama Satu Likur sampai ke Tujuh Likur, maka di hari ketujuh, dibuatlah api-api obor yang sekarang dikembangkan menjadi gapura-gapura. Semangatnya adalah bagaimana menghidupkan di sepuluh hari terakhir Ramadan. Dengan api yang menyala, ada kobaran semangat untuk beribadah dan menyambut Lailatul Qadar yaitu malam lebih baik daripada 1000 bulan,” ungkap Bong Ming Ming.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.