Tetap Sehat saat Berlebaran
Beberapa orang juga dapat mengalami sakit perut, diare, atau sembelit serta dapat meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2, kenaikan tekanan darah dan kolesterol karena kadar gula dalam darah meningkat secara signifikan.
Untuk meminimalisir risiko-risiko tersebut, sedari awal Islam sudah mengantisipasi dan menganjurkan kita untuk berpuasa setelah lebaran sebagai bentuk adaptasi tubuh.
Karena proses penyesuaian yang terjadi dalam tubuh selama berpuasa, lebaran dan dilanjutkan dengan puasa selama 6 hari hingga kembali seperti biasanya dapat membantu tubuh untuk beradaptasi dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan fisiologis yang positif.
Saat berpuasa, tubuh mengalami perubahan fisiologis seperti menurunnya kadar gula darah dan insulin dalam darah, meningkatnya produksi hormon pertumbuhan, dan peningkatan produksi keton sebagai sumber energi alternatif untuk tubuh.
Proses ini dapat membantu tubuh untuk beradaptasi dengan lingkungan dan meningkatkan kapasitas tubuh dalam mengatasi stres oksidatif dan peradangan dalam tubuh yang didorong oleh proses metabolisme selama puasa.
Namun, sebaiknya puasa setelah lebaran dilakukan dengan persiapan yang matang dan pengaturan yang baik, terutama bagi orang yang memiliki kondisi medis tertentu atau sedang menjalani pengobatan.
Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum melakukan puasa setelah Lebaran, dan pastikan untuk menjaga asupan nutrisi yang cukup selama berpuasa untuk menghindari risiko gangguan kesehatan.
Rizka Zulpiana, Mahasiswi asal Bangka Selatan yang berkuliah di Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.