Etnis Tionghoa dan Melayu merupakan penduduk dengan jumlah terbesar di Pulau Bangka. Bangka Belitung memiliki komposisi penduduk etnis terbesar yaitu Melayu Bangka dan Belitung sekitar 69 persen dan Etnis Tionghoa dengan populasi 11 persen (Kavin, 2016:12).

Mereka saling berbaur dan menerima kebudayaan masing-masing. Keakraban antarbudaya antara Etnis Tionghoa dan Melayu, tampak pada pakaian pengantin perempuan dalam pernikahan Melayu Bangka dengan dominasi warna merah dan emas yang mirip dengan pengantin Tionghoa.

Dahulu banyak perempuan Tionghoa mengenakan kain dan kebaya sebagai pakaian sehari- hari. Selain itu, sejumlah kuliner Bangka membuktikan adanya keakraban antara kedua budaya ini dan membuat masyarakat di Pulau Bangka menyadari keberagaman yang mereka miliki (Theo & Lie, 2014:3).

Martabak manis atau biasa disebut Hok Lopan merupakan salah satu jenis kue warisan kuliner yang menampilkan jejak budaya Tiongkok yang pada perkembangannya sejalan dengan proses akulturasi budaya yang berlangsung di Bangka, kue ini juga menjadi salah satu jenis kue yang juga dinikmati oleh seluruh kelompok masyarakat yang ada di Bangka (Setiati, 2008:78).

Baca Juga  Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1445 H Jatuh Pada 10 April 2024

Pengakuan akan kesamaan derajat dari fenomena budaya yang beragam itu tampak dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbedabeda tetapi tetap satu (Marta, 2018:6).

Ungkapan itu sendiri mengisyaratkan suatu kemauan yang kuat untuk mengakui perbedaan, tetapi sekaligus memelihara kesatuan atas dasar pemeliharaan keragaman, bukan dengan menghapuskannya atau mengingkarinya.

Perbedaan dihargai dan dipahami sebagai realitas kehidupan, hal ini adalah asumsi dasar yang juga melandasi paham multikulturalisme. (Jurnal Tinjauan Historis Simbol Harmonisasi Antara Etnis Tionghoa dan Melayu di Bangka Belitung, Meta Sya, Rustono Farady Marta Teguh Priyo Sadono, 2019)

Liburan Idulfitri 1444 H kami anggap sebagai ajang reuni, para sahabat di luar kota ikut mudik pada liburan ini.

Dua hari ini kami berkumpul memanfaatkan waktu bersenda gurau di warung kopi serta rumah guru-guru yang berlebaran.

Baca Juga  Pasien RSUD Basel Alami Peningkatan selama Idulftri

Muk Fie, alumni PK SMEAN 1 Sungailiat mengatakan kebersamaan para alumni tak lagi mengenal perbedaan. Semuanya menyatu dalam bingkai kebersamaan.

“Persahabatan kami tidak mengenal perbedaan. Kami bersatu baik Tionghoa dan melayu dan ini sudah sejak dulu sejak 30 tahun lalu saat sekolah. Pada saat Tahun Baru Khongian, teman-teman Melayu dan datang ke rumah kami. Dan saat Idulfitri kami yang berkunjung ke kediaman mereka. Tidak ada batasan, semuanya menyatu dalam persahabatan dan kebersamaan,” kata Muk Fi.

Senada dikatakan Ce Yung Chandra tidak ada perbedaan antara teman-teman Melayu dan Tionghoa di Bangka khususnya. “Semuanya berkumpul, saling membantu jika ada teman yang kesulitan baik itu Melayu maupun Tionghoa. Di sinilah indahnya persahabatan kita. Semoga menjadi contoh teman-teman yang lain. Mari kita jaga Indonesia dalam Bhineka Tunggal Ika,” kata Ce Yung.

Salah satu mantan Guru SMEAN 1 Sungailiat yang sangat dekat dengan murid-muridnya, Darusman Taufik sangat mengapresiasi hubungan persahabatan alumni SMEAN 1 Sungailiat yang terus terjalin dengan baik.

Baca Juga  Talent Week, Wahana Seru Wujudkan Merdeka Belajar

Hubungan persahabatan Tionghoa dan Melayu tersebut bahkan dituangkan dalam aksi-aksinya nyata kegiatan sosial.

“Saya salut melihat para siswa SMEAN 1 Sungailiat angkatan 96, mereka kompak dalam segala hal. Tidak mengenal perbedaan. Sejak dulu melaksanakan kegiatan sosial, membantu guru maupun siswa yang kesulitan, luar biasa. Apresiasi yang tinggi untuk mereka semua. Semoga anak-anakku menjadi anak-anak yang sukses dan terus menjaga persahabatan, tingkatkan lagi rasa dan aksi sosialnya, menjaga persahabatan Melayu dan Tionghoa berarti merawat Bhineka Tunggal Ika dalam bingkai Negara Kesatuan Ripublik Indonesia,” ujarnya.

Indahnya kebersamaan ini, penulis coba ungkapkan bagian dari moderasi beragama. Perbedaan yang melebur dan menyatu menjadi harmoni dalam mozaik kerukunan beragama.

Bangka Belitung adalah miniatur Indonesia, Melayu dan Tionghoa menyatu dalam Tongin Fangin Tjit Tjong

Selamat merayakan Idulfitri 1444 H