Oleh: Dedy Irawan, Wartawan Timelines.id

FEATURE, TIMELINES.ID — Tak salah jika Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyebut Provinsi Bangka Belitung adalah miniatur Indonesia.

Tak salah pula Gubernur Babel pertama Hudarni Rani yang terus menggelorakan slogan Tongin Fangin Tjit Tjong yang dicetus oleh Amung Tjandra, Tokoh Pembentukan Provinsi Bangka Belitung.

Bersilaturahmi di rumah guru Darmilawati

Pun tak salah juga ketika saya sering meneriakkan tagline itu saat berkumpul dengan teman sekelas MP 1 SMEAN Sungailiat angkatan 1996 yang rerata adalah WNI keturunan Tionghoa.

Maklum, penulis adalah lulusan SMEA yang katanya adalah tempat sekolahnya warga keturunan Tionghoa.

Suasana Idulfitri di kediaman guru Lukman

Pernyataan itu tak dapat disalahkan juga. Seingat saya ketika SMEA dulu, teman sekelas orang Melayu tak sampai 10 orang dari 38 siswa.

Baca Juga  Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2025: Mengakui Fondasi yang Rapuh demi Menyelamatkan Generasi Emas Bangsa

Sisanya adalah kawan-kawan WNI keturunan Tionghoa semua.

Bersenda gurau dalam suana Idulfitri di rumah guru Amprawadi

Meski tak begitu dekat dengan semua teman warga keturunan, namun penulis bisa memastikan mereka semua orang baik.

Buktinya sejak tamat 1996 lalu hingga saat ini, komunikasi kami tetap berjalan baik.

Bahkan penulis boleh katakan, SMEAN Sungailiat angkatan 1996 la yang terus aktif melaksanakan kegiatan sosial.

Alumni SMEAN 1 Sungailiat 96 bersenda gurau di Pantai Batu Bedaun.

Membantu guru serta para alumni yang membutuhkan. Sejak beberapa tahun lalu teman-teman angkatan 1996 telah membentuk panitia tali kasih.

Yang luar biasanya lagi, hasil sumbangan teman-teman kelas dan satu angkatan 96 bisa mencapai Rp40 – Rp50 juta untuk membantu guru yang sakit.

Ya, kebersamaan kami ini tak mengenal SARA. Semuanya lebur menjadi satu. Tahun lalu kami melakukan reuni III di Jakarta.

Baca Juga  Kemenhub Gelar Mudik Gratis 2024, Catat Jadwal dan Cara Pendaftarannya

Mengutip Jurnal Tinjauan Historis Simbol Harmonisasi Antara Etnis Tionghoa dan Melayu di Bangka Belitung (Meta Sya, Rustono Farady Marta Teguh Priyo Sadono, 2019), salah satu pulau di Indonesia yaitu Pulau Bangka dengan keberagaman penduduknya, mampu menjaga keharmonisan di antara Etnis Tionghoa dan Melayu.

Disebutkan, harmonis adalah keadaan di mana antara satu individu dengan individu lainnya saling seia sekata, atau dapat dikatakan perbedaan antara individu itu sudah terkikis oleh sikap tenggang rasa dan toleransi yang baik (Fernando & Marta, 2015:2).