Nyurok di bawah perempai badan harus sedikit merunduk sehingga bisa mengakibatkan sakit pinggang. Atau apabila tidak merunduk maka akan terkena leher.

7. Dak usah mukul perut!

Kegiatan ini ditinjau dari sisi etika, kurang tepat. Memukul perut membuat perut sakit dan apabila terdengar orang di sekitar membuat suasana kurang nyaman. Tidak baik ditinjau dari segi etika.

8. Dak usah ngendang meja!

Dari segit etika, ngendang (memukul) meja tidak baik. Meja bukan untuk digendang melainkan untuk meletakkan makanan dan minuman dan benda-benda yang dianggap berharga dan penting lainnya.

Ngendang meja bisa terdengar ke tetangga sekitar sehingga tidak etis apabila terdengar oleh tetangga.

9. Apabila hujan panas, harus menyisipkan daun pada telinga dan menyebutkan salah satu anggota tubuh, “ko mate, tangan” dan lain sebagainya.

Baca Juga  Dukung Kibar Bendara Merah Putih di IKN, Bupati Bateng Sambangi Kediamanan Chaterine

Mitos ini berkembang dikalangan anak-anak. Kondisi cuaca yang berlangsung secara bersamaan, yakni hujan dan panas, dipercayai oleh masyarakat sebagai suasana yang bisa mendatangkan bahaya.

Anak-anak tidak diperbolehkan berada di bawah terpaan cuaca ini karena dalam kondisi seperti ini ada hantu yang oleh mereka disebut dengan hantu lesung berseliweran dan jika hantu lesung itu menabrak seseorang, maka orang tersebut akan sakit.

Oleh karena itu, jika ada anak yang sakit karena sebelumnya berhujan panas, maka mereka akan segera berasumsi bahwa anak tersebut ditumbur (ditabrak) antu lesung.

Upaya pertama untuk mencegah kejadian ini pertama-tama ketika sedang bermain bersama teman-temannya lalu turun hujan panas, maka mereka harus segera memegang salah satu organ tubuh seraya menyebutkan namanya dan yang lain punya kewajiban yang sama, namun organ yang disebutkan haruslah berbeda dengan apa yang telah disebutkan oleh temannya.

Baca Juga  Mengisi Liburan Semester dengan Kegiatan Bermakna

Misalnya, “Ku bilung (saya telinga)”, lalu yang lain: “Ku mate (saya mata)”, yang lain: “Ku idung (Saya hidung)”, dan sebagainya.

Kemudian telinga mereka harus disisipi dengan daun. Mereka percaya bahwa dengan berbuat seperti itu maka mereka tidak akan ditabrak antu lesung.

Di satu sisi mitos ini mengandung kontrol sosial bahwa jika hujan panas mereka harus sadar akan bahayanya dan kesadaran itu dibuktikan dengan kecepakatan mereka menyebut salah satu organ tubuh, untuk selanjutnya mereka harus berteduh.

Selain itu, pada sisi medis dapat diterangkan bahwa perubahan cuaca yang tiba-tiba dari panas ke hujan akan menyebabkan perubahan suhu tubuh yang tiba-tiba pula.

Implikasinya, transisi suhu udara dan suhu tubuh ini akan mempengaruhi kerja saraf dan berimbas pada pusing-pusing.

Baca Juga  Eksplorasi Mendalam Pohon Petai: Pilar Ekosistem Tropis dan Agen Mitigasi Karbon Global

Sakit seperti inilah yang pada dasarnya dipercaya oleh masyarakat sebagai akibat bertabrakan dengan antu lesung, padahal secara medis jelas ada hubungan medisnya (Ibrahim; 2004).

10. Dak usah muang nasi ke aik!

Pantangan ini lebih mengarah kepada bentuk perbuatan yang mubazir. Nasi yang terbuang akan membuat dewi padi atau dewi sri membenci manusia yang mengakibatkan akan gagal panen pada musim tanam selanjutnya.

Membuang nasi sebagai bentuk tidak mensyukuri atas nikmat yang Tuhan berikan. (Bersambung)

Meilanto, Pengajar SDN 13 Koba, Penulis, Budayawan