Lalu adakah cara lain yang lebih baik dari keempat cara tersebut yang dapat menyentuh hati nurani siswa? Jawabannya dengan menerapkan segitiga restitusi.

Segitiga restitusi adalah sebuah cara untuk menanamkan disiplin positif pada siswa tanpa menghakimi melainkan dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa secara bebas untuk memperbaiki kesalahan mereka dengan cara dan kesadaran mereka sendiri.

Pada restitusi, seorang guru berperan sebagai pembimbing yang membimbing siswa melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan untuk mengungkapkan kesalaham, menggali alasan dan memahami keyakinan apa yang mereka langgar sehingga harapan akhirnya siswa dapat menyadari kesalahannya sendiri, belajar dari kesalahan tersebut hingga akhirnya mereka menyadari suatu nilai keyakinan yang melekat dan memperkuat karakter siswa.

Baca Juga  Dari Solar ke LPG, Transisi Nelayan Bangka Selatan

Untuk dapat menerapkan segitiga restitusi secara maksimal maka kita pun harus mengubah paradigma yang selama ini terjadi sekolah.

Jika awalnya kita membuat peraturan yang kita anggap sebagai budaya positif hanya satu pihak saja tanpa melibatkan siswa maka mulai dari sekarang kita harus melibatkan siswa.

Libatkan mereka untuk memberikan ide-ide mengenai budaya positif/disiplin positif/keyakinan kelas apa yang mereka butuhkan dan inginkan agar muncul rasa memiliki dan tanggung jawab untuk menjalani apa yang mereka tuliskan sendiri.

Mengapa hal ini penting dilakukan? Agar ketika menerapkan segitiga restitusi kita hanya tinggal menggali dan mengingatkan kembali saja mengenai apa yang mereka tuliskan, keyakinan apa yang mereka langgar sehingga motivasi dari dalam dirinya mudah dimunculkan.

Baca Juga  Terima Kasih Nelayan atas Hasil Lautnya

Megapa saya bisa bicara demikian? Karena hal tersebut sudah saya buktikan dengan penerapan segitiga restitusi yang saya lakukan kepada beberapa siswa.

ketika mereka diminta pendapat mengenai kegiatan ini semua dari siswa menjawab bahwa mereka lebih tahu dan yakin kenapa mereka harus disiplin terhadap keyakinan kelas yang dibuat, mereka tidak merasa takut atau malu tetapi dengan sukarela berbicara mengenai kesalahan dan bersedia untuk menjadi lebih baik kedepannya.

Saya yakin kesadaran siswa yang demikianlah yang diharapkan oleh semua guru.

Tindakan-tindakan guru dengan cara menghukum, memberikan konsekuensi dan sebagainya tidak lain karena tujuan akhirnya mereka semua menginginkan hal demikian meski ternyata cara tersebut salah.

Baca Juga  Derita Lingkungan di Tengah Gemerlap Timah Bangka Belitung

Memberikan hukuman atau konsekuensi dengan berpura-pura marah kepada peserta didik pun membutuhkan energi yang sangat besar sehingga biasanya guru akan cepat lelah, dengan penerapan segitiga restitusi ini maka guru bisa menyelesaikan masalah siswa dengan tenang tanpa menguras energi.

Guru tenang, siswa pun senang, semua jadi menang.

Melia Noprianda, S.Pd., Gr, Guru SMP Negeri 2 Tukak Sadai