Mengenal Pantang Larang (8)
Lubang jarum untuk dimasukkan benang berada dibagian atas sedangkan bagian yang runcing berada dibagian bawah. Lubang jarum tentunya berukuran kecil.
Zaman dulu, penerangan masih menggunakan lampu pelita. Pandangan hanya terlihat samar-samar.
Memasukkan benang pada malam hari membuat mata menjadi sakit yang jika ini dilakukan terus menerus membuat mata menjadi cepat rabun. Lagi pula malam hari adalah waktunya beristirahat.
7. Mawak pemakan malam-malam, nak diisi cabik dan garam dan bawang.
Mitos ini berkembang di masyarakat luas. Dipercayai membawa makanan pada malam hari akan diikuti oleh makhluk halus.
Makhluk halus tersebut akan ikut makan bahkan akan mengganggu jika rumah yang dituju ada anak kecil. Untuk ‘menangkal’ hal tersebut, maka makanan harus diisi dengan cabai dan garam serta bawang. Cabai, garam dan bawang cukup sedikit saja. Tiga macam bumbu ini dipercayai bisa mengusir makhluk halus.
8. Dak usah nuwe makan ikan kelak cacing!
Mitos ini berkembang di masyarakat. Makan ikan dipercayai akan menimbulkan penyakit cacingan. Mitos ini sebenarnya menyiratkan pesan untuk saling berbagi dengan saudara lain.
Maka dari itu berkembang mitos ini sebagai pengontrol bahwa makan harus saling berbagi.
Ikan justru banyak mengandung protein yang dibutuhkan oleh tubuh. Dengan makan ikan maka nutrisi akan dipenuhi.
9. Kalau bini tengah bunting, dak usah munuh
Pantangan ini lebih bersifat kehati-hatian. Membunuh binatang disaat istri sedang hamil dipercayai akan membawa musibah. Mitos ini jika dilakukan maka bayi yang akan lahir nanti tidak sempurna (cacat).
10. Men sakit perot, ngantong batu.
Sering kali saat dalam perjalanan, perut terasa sakit hendak buang air. Tempat pembuangan belum ditemukan. Maka berkembang mitos bahwa, si sakit perut harus mengantongi batu (lebih tepatnya kerikil satu biji).
Sebenarnya mitos ini tidak ada sangkut pautnya. Tetapi dengan mengantongi batu (kerikil) maka pikiran akan terfokus ke batu (kerikil) yang dikantongi sehingga bisa mengurangi rasa sakit hendak buang hajat.
Meilanto, pengajar di SDN 13 Koba, Penulis, Budayawan Bangka Tengah

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.