Hari Buku, Apa Kabar Minat Baca Kita?
Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada Tahun 2022 merilis data tentang Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia sebesar 63,9 poin atau naik 7,4 persen jika dibandingkan dengan tahun 2021 sebesar 59,52 persen dengan kategori sedang.
Lalu bila kita mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, kegemaran membaca masyarakat Indonesia secara keseluruhan berada di angka 59,52 dengan durasi membaca 4 – 5 jam per minggu dan 4 – 5 buku per triwulan.
Ke dua data di atas memberikan pendapat bahwa, kegemaran membaca atau minat baca masyarakat Indonesia telah menuju ke arah yang lebih baik, karena data tersebut menunjukan adanya arah perubahan dari posisi rendah menjadi sedang serta terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun.
Terlebih setelah dicetuskannya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) oleh Kementrian Pendidikan Republik Indonesia pada tahun 2015 melalui Permen No 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan buki pekerti. Gerakan literasi tumbuh “bak jamur di musim hujan”.
Di mana-mana orang menggelar kegiatan literasi (membaca dan menulis), adanya program membaca di sekolah, penyediaan buku non teks di perpustakaan sekolah, bimbingan menulis dan pengajaran sastra menjadi sesuatu yang akrab kita jumpai.
Kegiatan tersebut kemudian bermula pada produk ekspresi literasi dalam bentuk buku, opini, essay, jurnal, feature, puisi, cerita pendek, berita atau kegiatan literasi seperti, kompetisi kepenulisan, pameran literasi, pemilihan duta literasi, pemilihan duta perpustakaan, komunitas literasi dan taman bacaan masyarakat (TBM).
Jadi, sudah berapa artikel yang kita baca hari ini? Sudah berapa buku yang kita habiskan di minggu ini? Sudah berapa tulisan yang kita hasilkan di bulan ini? Sudah berapa buku yang kita cetak di tahun ini? Atau sudah berapa bayak ide yang kita tulis kita aplikasikan?.
Perenungan dan aplikasi kita dalam melakukan kegiatan membaca dan menulis (literasi) tersebut yang kemudian menjadi indikator, apa kabar minat baca kita hari ini? Terlebih setelah 13 tahun sejak hari buku ditetapkan pada 17 Mei 2002.
Barbara W Tuchman mengatakan, “Buku adalah pembawa peradaban, tanpa buku sejarah itu sunyi, sastra itu bodoh, sains lumpuh, pemikiran dan spekulasi berhenti, buku adalah mesin perubahan, mercusuar yang didirikan di lautan waktu dan jendela di dunia”.
Iqra (bacalah).
Agustian Deny Ardiansyah, SPd, pengajar di SMPN 2 Lepar, Penulis, Pegiat Literasi Kabupaten Bangka Selatan.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.