Lahirkan Banyak Karya Puisi, Ini Profil Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono
Pada masa tersebut, Sapardi juga menjadi redaktur majalah Horison, Basis, Kalam, Pembinaan Bahasa Indonesia, Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, dan country editor majalah Tenggara di Kuala Lumpur.
Selepas purnatugas sebagai dosen di UI pada tahun 2005, Sapardi masih mengajar di Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta sambil tetap menulis fiksi maupun nonfiksi.
Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.
Penghargaan
Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Di antaranya adalah Cultural Award (Australia, 1978), Anugerah Puisi Putra (Malaysia, 1983), SEA Write Award (Thailand, 1986), Anugerah Seni Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1990), Kalyana Kretya dari Menristek RI (1996), Achmad Bakrie Award (Indonesia, 2003), Akademi Jakarta (Indonesia, 2012), Habibie Award (Indonesia, 2016), dan ASEAN Book Award (2018).[3]
Kehidupan pribadi
Sapardi menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri.
Ia meninggal dunia pada 19 Juli 2020 di Rumah Sakit Eka BSD, Tangerang Selatan, setelah sempat dirawat karena penurunan fungsi organ tubuh. Ia meninggal pukul 09.17.
Sejak Sabtu sehari sebelumnya, ia mengalami pendarahan hebat. Hingga hari Minggu pada pukul 08.00 ia masih dapat berkomunikasi.
Setelah intervensi pada paru-parunya guna mengeluarkan dahak, ia tak memberi respon hingga dinyatakan meninggal pada pukul 09:17 WIB. Tempat peristirahatan terakhirnya adalah Taman Pemakaman Giritama, Giri Tonjong, Kabupaten Bogor.
Sastra
●Duka-Mu Abadi (1969; kumpulan puisi 1967-1968)
●Lelaki Tua dan Laut (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
●Mata Pisau (1974; kumpulan puisi 1969-1971)
●Sepilihan Sajak Giórgos Seféris (1975; terjemahan karya Giórgos Seféris)
●Puisi Klasik Cina (1976; terjemahan)
●Lirik Klasik Parsi (1977; terjemahan)
●Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak (1982, Pustaka Jaya)
●Perahu Kertas (1983; kumpulan puisi)
●Sihir Hujan (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
●Water Color Poems (1986; translated by John H. McGlynn)
●Suddenly The Night: The Poetry of Sapardi Djoko Damono (1988; translated by John H. McGlynn)
●Afrika yang Resah (1988; terjemahan karya Okot p’Bitek)
●Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
●Hujan Bulan Juni (1994; kumpulan puisi 1959-1994)
●Black Magic Rain (1994; translated by Harry G Aveling)
●Arloji (1998; kumpulan puisi)
●Ayat-ayat Api (2000; kumpulan puisi)
●Pengarang Telah Mati (2001; kumpulan cerpen)
●Mata Jendela (2002; kumpulan puisi)
●Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro? (2002; kumpulan puisi)
●Membunuh Orang Gila (2003; kumpulan cerpen)
●Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia Periode Awal (1870an – 1910an)” (2005; salah seorang penyusun)
●Mantra Orang Jawa (2005; puitisasi mantra tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
●Before Dawn: The Poetry of Sapardi Djoko Damono (2005; translated by John H. McGlynn)
●Kolam (2009; kumpulan puisi)
●Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita (2012; kumpulan puisi)
●Namaku Sita (2012; kumpulan puisi)
●The Birth of I La Galigo (2013; puitisasi epos “I La Galigo” terjemahan Muhammad Salim, kumpulan puisi dwibahasa bersama John H. McGlynn)
●Hujan Bulan Juni: Sepilihan Sajak (edisi 1994 yang diperkaya dengan sajak-sajak sejak 1959, 2013; kumpulan puisi)
●Trilogi Soekram (2015; novel)
●Hujan Bulan Juni (2015; novel)
●Melipat Jarak (2015, kumpulan puisi 1998-2015)
●Suti (2015, novel)
●Pingkan Melipat Jarak (2017; novel)
●Yang Fana Adalah Waktu (2018; novel)
●Sepasang Sepatu Tua (2019; kumpulan cerpen)
●Segi Tiga (2020; novel)
●Mboel: 80 Sajak (2020; kumpulan puisi)
(Dilansir dari Wikipedia)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.