Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, tetapi bercerai pada akhir tahun 1948.

Peninggalan

Teeuw mencatat bahwa hingga tahun 1980 tulisan tentang Chairil jauh lebih banyak daripada penulis Indonesia lainnya. Kebanyakan diantaranya merupakan esai dari para penulis muda. Teeuw mendeskripsikan Chairil sebagai “penyair yang sempurna”.

Karya-karya Chairil telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Tanggal kelahirannya (26 Juni) diperingati sebagai Hari Puisi, tanggal kematiannya (28 April) diperingati sebagai Hari Sastra (pada era 1950-an).

Walaupun demikian penetapan ini tidak disambut oleh semua penyair Indonesia, dan sebagian kelompok menetapkan Hari Sastra sesuai tanggal lahir penyair lainnya, seperti Abdul Muis, Pramoedya Ananta Toer, maupun HB Jassin.[15][16]

Karya tulis yang diterbitkan

●Sampul Buku Deru Campur Debu Diterjemahkan dari Andre Gide
●Deru Campur Debu (1949)
●Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan yang Putus (1949)
●Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
●Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949, disunting oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
●Derai-derai Cemara (1998)
●Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
●Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck

Baca Juga  Polri Siapkan 2 Ribuan Pos Pengamanan Pada Operasi Ketupat 2023

Terjemahan ke bahasa asing

Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman, bahasa Rusia dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:

●”Sharp Gravel, Indonesian Poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960)
●”Cuatro Poemas Indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
●Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
●”Only Dust: Three Modern Indonesian Poets”, oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
●The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
●The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
●Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
●The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
●Dalam Kumpulan “Poeti Indonezii” (Penyair-Penyair Indonesia). Terjemahan oleh S. Semovolos. Moscow: Inostrannaya Literatura, 1959, № 4, hlm. 3-5; 1960, № 2, hlm. 39-42.
●Dalam Kumpulan “Golosa Tryoh Tisyach Ostrovov” (Suara Tiga Ribu Pulau). Terjemahan oleh Sergei Severtsev. Moscow, 1963, hlm. 19-38.
●Dalam Kumpulan “Pokoryat Vishinu” (Bertakhta di Atasnya). Puisi penyair Malaysia dan Indonesia dalam terjemahan Victor Pogadaev. Moscow: Klyuch-C, 2009, hlm. 87-89.

Baca Juga  Ikhlaskan Segalanya

Karya-karya tentang Chairil Anwar

●Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)
●Boen S. Oemarjati, “Chairil Anwar: The Poet and His Language” (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
●Abdul Kadir Bakar, “Sekelumit Pembicaraan tentang Penyair Chairil Anwar” (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)
●S.U.S. Nababan, “A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar” (New York, 1976)
●Arief Budiman, “Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan” (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976)
●Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976
●H.B. Jassin, “Chairil Anwar, Pelopor Angkatan ’45, disertai kumpulan hasil tulisannya”, (Jakarta: Gunung Agung, 1983)
●Husain Junus, “Gaya Bahasa Chairil Anwar” (Manado: Universitas Sam Ratulangi, 1984)
●Rachmat Djoko Pradopo, “Bahasa Puisi Penyair Utama Sastra Indonesia Modern” (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
●Sjumandjaya, “Aku: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987)
●Pamusuk Eneste, “Mengenal Chairil Anwar” (Jakarta: Obor, 1995)
●Zaenal Hakim, “Edisi kritis puisi Chairil Anwar” (Jakarta: Dian Rakyat, 1996)
●Drama Pengadilan Sastra Chairil Anwar karya Eko Tunas, sutradara Joshua Igho, di Gedung Kesenian Kota Tegal (2006).

Baca Juga  Hindari Degradasi Widodo Fokus Perbaiki Kelemahan Singo Edan

Citra Chairil Anwar didalam seni

Seni rupa: Dalam seni fotografi potret, potret Chairil Anwar tahun 1940-an (lih. di awal artikel ini) oleh fotografer tak kenal diakuu sebagai citra dia terbaik. Sastra: Dalam roman Atheis (1949) oleh Achdiat Karta Mihardja, salah satu wataknya Anwar, seorang anarkis, nihilis, pemain wanita bersifat kasar, diperkirakan telah didasarkan pada Chairil Anwar yang terkenal selaku anarkis individualis, kasar, dan suka main wanita.(Dilansir dari Wikipedia)