“Kita tidak mengarahkan ke pembaca dalam satu sudut saja. Berita harus objektif dan sehat tanpa menyesatkan. Konfirmasi harus benar benar dapat di tuangkan dalam narasi berita tanpa memotong motong jawaban narasumber apalagi memilintir konfirmasi dengan penyajian di luar isi. Inilah yang menjadi kerugian bagi narasumber mereka mereka dipojokan dengan isi berita yang sesat,” ujarnya.

Dengan semakin bertumbuhnya media online akhir akhir ini, Eztie tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Hanya saja media tersebut harus menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dan awak medianya harus diberikan pelatihan dan pemahaman cara membuat berita yang sehat.

“Semakin banyak media online semakin seru dong. Tapi media tersebut harus tetap menjunjung tinggi kode etik jurnalistik profesi wartawannya. Sekarang banyak kita jumpai orang orang menyebutkan dirinya seorang wartawan. Tukang parkir pun bisa berubah jadi wartawan saat ini. Hanya saja tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Nyamuk kalo gak gigit gak akan mati kena pukul. Pahamkan arahnya seperti apa?” sindirnya.

Baca Juga  Salsabila Clarista Terpilih Jadi Ketua Komunitas Pers Sekolah

Tentunya dengan praktik praktik menyesatkan yang dilakukan para oknum wartawan ini merugikan bagi para penggiat profesi wartawan sebenarnya.

Menurut Eztie, yang disorot masyarakat adalah profesinya padahal yang melakukan aksi seperti ini hanyalah oknum yang mengaku sebagai wartawan.

“Saya selalu menyarankan laporkan saja ke pihak kepolisian, apabila ada oknum oknum seperti ini merugikan orang banyak. Kalau ditanya dukungan bagi oknum itu?  Untuk apa kami mendukung oknum yang mencoreng nama baik profesi kami,” tegasnya.