Guru Mestinya Mendidik Bukan hanya Mengajar
Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam, bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) namun dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani.
Memang benar seorang petani dapat memperbaiki keadaan padi yang ditanam, bahkan ia dapat juga menghasilkan tanaman padi yang lebih subur daripada tanaman yang tidak dipelihara, tetapi mengganti kodrat padi itu tetap mustahil, demikianlah pendidikan, walaupun hanya ‘menuntun’, akan tetapi faedahnya bagi siswa sangatlah besar.
Namun, sayangnya pemikiran KHD tersebut kini seolah terkikis dan terlupakan oleh para guru, kenyataannya proses pembelajaran yang berlangsung pada mayoritas satuan instansi pendidikan bertolak belakang dengan pemikiran KHD tersebut.
Hal ini terlihat dari banyaknya permasalahan yang terjadi dalam proses pendidikan, permasalahan yang paling dominan yang diungkapkan oleh guru adalah didalam proses pembelajaran guru hanya berpusat pada penyampaian materi saja.
Hal ini terjadi karena guru merasa direpotkan dengan banyaknya materi yang harus dituntaskan dan juga tuntutan administrasi yang juga tak kalah banyak sehingga tidak memiliki waktu untuk melakukan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan mengembangkan keterampilan sesuai kodrat zaman dan alam anak.
Bahkan terkadang untuk mencapai target ketuntasan materi guru, tak jarang guru menjadi marah kepada anak yang dilihatnya selalu bergerak ataupun berisik di dalam kelas, memberi cap bodoh kepada anak yang tidak bisa pada suatu mata pelajaran dan akhirnya kelas menjadi tempat yang menyeramkan bagi anak ketika proses pembelajaran berlangsung.
Jika kita merujuk kembali kepada filosofi pendidikan KHD, kita sebagai guru atau pendidik harus bisa menempatkan diri kita sebagai seorang petani, di mana ketika berada didalam kelas, sejatinya kita dihadapkan dengan berbagai jenis tanaman.
Dengan pemikiran KHD tersebut kita mulai harus memberikan afirmasi kepada diri kita sendiri bahwa setiap anak memiliki keistimewaan tersendiri, memiliki kondrat mereka sendiri (minat dan bakat) sehingga tentu antara peserta didik satu dengan lainnya tidak bisa disamakan cara perawatannya atau perlakuannya.
Kita harus memandang mereka sebagai seseorang yang sudah memiliki kodratnya masing-masing, tugas kita hanya memastikan mereka menjalani kodrat tersebut sesuai dengan budi pekerti seharusnya, yang melatih anak untuk memiliki kesadaran diri yang utuh untuk menjadi dirinya (kemerdekaan diri) dan kemerdekaan orang lain dan siap bersaing di peradaban apapun dengan rasa bahagia.
Contoh konkret yang dapat kita terapkan pada proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KHD dengan konteks lokal sosial budaya adalah dengan menerapkan model atau metode pembelajaran yang dapat membangkitkan motivasi dan rasa senang (memerdekakan anak) kepada anak didik selama proses pembelajaran berlangsung.
Contoh pada proses pembelajaran IPA mengenai sistem pencernaan misalnya, materi sistem pencernaan yang dirasa sulit karena merupakan materi yang abstrak dapat tersampaikan dengan baik jika dalam proses pembelajarannya kita berpegang pada pemikiran KHD.
Kita dapat memberikan pelajaran mengenai sistem pencernaan sekaligus juga dapat memberikan pendidikan melalui kebudayaan “Nganggung” yang memiliki filosofi kebersamaan dan gotong royong dan juga permainan “Pilun” (gobak sodor), suatu permainan jasmani yang mengajarkan kerjasama serta kekompakan antar pemain.
Budaya Nganggung dapat disemai pada proses pembelajaran ini karena sesuai dengan materinya yang berkaitan dengan makanan, sebelum proses pembelajaran berlangsung kita sebagai guru dapat menjelaskan kepada peserta didik mengenai nilai-nilai dari budaya Nganggung itu sendiri pada tahap apersepsi dan pemberian motivasi.
Setelah dirasa siswa telah memahami hal tersebut baru lah guru dapat menjelaskan tujuan dari pembelajaran serta aturan-aturan yang berlaku selama proses pembelajaran, budaya Nganggung diangkat untuk memenuhi asas pendidkan kodrat alam dari siswa tinggal di Bangka Belitung.
Kemudian, untuk mencapai kodrat zamannya guru dapat menggunakan youtube (kodrat gen Z) untuk menampilkan film kartun mengenai sistem pencernaan, pada tahap ini guru dapat menuntun siswa bagaimana memanfaatkan youtube sesuai dengan usia dan kepentingan positif.
Sedangkan di akhir pembelajaran untuk mencapai kemerdekaan dan kepuasan serta menciptakan kegembiraan siswa, siswa akan diajak bermain pilun, dimana pilun ini merupakan salah satu permainan legendaris di Bangka Belitung yang sudah sangat jarang dimainkan oleh anak zaman sekarang.
Guru dapat memanfaatkan permainan ini sebagai ajang mengajukan kuis, ketika ada siswa yang terpegang oleh penjaga maka siswa tersebut harus siap menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.
Menjadi guru adalah pilihan, maka ketika kita menjadi guru haruslah menjadi guru yang mendidik bukan hanya mengajar.
Melia Noprianda, S.Pd., Gr, Guru SMPN 2 Tukak Sadai, Bangka Selatan

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.