Bujang Nyire nampak bahagia dengan apa yang ia rasakan, senyuman perempuan itu indah terbayang, bak berkah yang tak ingin disia-siakan.

Si Gusong malah mencurigai cerita itu.

Ia khawatir jika sahabatnya hanyalah berkhayal ditempat yang selama ini dikenal keramat dan angker.

“Wahai sahabat ku, bukankah di tempat itu tidak ada orang lain yang berani menjumpai, terkecuali hanyalah engkau! Apalagi orang itu adalah perempuan, sungguh itu tak masuk akal! Jangan-jangan perempuan itu adalah jelmaan dari penunggu sungai besar!” ucap Si Gusong.

“Tidak, aku yakin perempuan itu adalah manusia, tatapan dan senyumannya membuatku tak berkilah !” jawab Bujang Nyire.

Keesokan harinya, Bujang Nyire kembali ke sungai itu. Ia berharap tuah agar bertemu kembali dengan perempuan kemarin, maksud hati ingin berkenalan.

Baca Juga  Nyungkur di Pesisir Pantai: Keseimbangan Nilai Budaya dan Ekonomi Masyarakat Toboali

Tetapi, apa daya ia hanya menunggu dengan kesendiriannya sampai melewati petang, tidak dijumpainya perempuan itu, di dalam hatinya bertanya-tanya.

“Wahai Sungai, pertemukanlah diriku dengan perempuan kemarin, sungguh aku ingin melihatnya kembali, hati ku gundah dan risau ingin menyapa dan bercakap-cakap dengannya,” ucap Bujang Nyire.

Tak lama, angin nyiur berhembus menyusuri ilalang, membawa Bujang Nyire ke tepian sungai untuk beristirahat tepat dibawah pohon beringin, tempat di mana ia bertemu dengan perempuan kemarin.

Udara yang sejuk membuat Bujang Nyire tertidur pulas sampai ke sore harinya.

Di tempat lainnya, Si Gusong khawatir dengan apa yang dirasakan oleh sahabatnya yakni Bujang Nyire.

Ia memutuskan untuk menyusul Bujang Nyire ke sungai yang angker itu.

Baca Juga  Weton Jawa Selasa Legi 6 Desember 2022: Tipe Jujur dan Pekerja Keras

Si Gusong mengajak sahabatnya yang lain untuk pergi ke sungai dengan perasaan takut.

Sampailah di sore harinya menjelang malam, Bujang Nyire terbangun oleh suara perempuan yang berada di hadapannya.

Sontak ia terkejut dengan keberadaan perempuan itu.

Berbaju putih, dan berambut panjang terikat menggunakan akar-akar kecil yang terkhias di rambutnya.

Nampak jika dibentangkan rambutnya maka akan teurai panjang sampai ke tanah.

Bujang Nyire pun bangun dengan senyum merona melihatkan gigi-giginya yang menguning karena kebiasaannya mengunyah daun sirih.

Perempuan itu menggandeng tangan Bujang Nyire, seperti ingin mengajak ke suatu ke tempat.

Pandangan Bujang Nyire pun menjadi khilau dan samar saat ingin melihat sekelilingnya, yang bisa ia lihat hanyalah perempuan itu sendiri.

Baca Juga  Pewaris Masa Depan dari Pongok hingga Simpang Rimba

Tanpa bertanya, Bujang Nyire pun mengikuti ajakan perempuan itu.

Nampak dari kejauhan Si Gusong bersama dengan para sahabatnya yang lain berlari menghampiri Bujang Nyire.

Namun apa daya, jalan setapak di hutan itu dipenuhi oleh semak belukar yang membuat jalannya melambat.

Dari kejauhan ia melihat Bujang Nyire berjalan memasuki sungai dan diiringi oleh seekor buaya putih yang lambat laun mulai tenggelam.

Si Gusong berteriak dari kejauhan.

“Tidakkkkkkkk”.

Apalah daya semua sudah terlambat, hanya bisa menyesali. Bujang Nyire pun sudah hilang dan tenggelam bersama matahari di ufuk barat yang berganti dengan malam.

Tamat.

Dwikki Ogi Dhaswara, Pamong Budaya Basel