Oleh: Dwikki Ogi Dhaswara

Alkisah di wilayah pesisir selatan pulau Bangka, hiduplah seorang laki-laki bernama Bujang Nyire.

Bujang adalah julukan kepada seorang laki-laki yang belum menikah, sedangkan Nyire adalah kebiasaan seseorang yang sering mengunyah daun sirih.

Bujang Nyire hidup sederhana berbekal mencari ikan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Giat mencari ikannya dilakukan di muara sungai besar yang dikenal keramat sebagai sarangnya buaya-buaya yang ganas.

Sudah banyak korban yang meninggal hingga hilang lenyap dimangsa buaya yang berada di sungai itu.

kejadian-kejadian yang telah lalu tidak membuat Bujang Nyire takut dan gentar.

Semua ia lakukan demi penghidupan dirinya, hanya bermodal dayung dan sampan, ia percaya bahwa sungai itu sangatlah kaya bak surga ikan-ikan dan udang-udang muara yang sudah lama tak terjamah oleh tangan manusia.

Baca Juga  Uji Publik, KPU Kota Tampung Usulan Pergeseran Kursi DPRD Pangkalpinang

Berhari-hari ia mencari ikan di sungai itu, tidak ada tanda-tanda yang janggal hingga membuatnya takut.

Angin nyiur melambai menjadikan dedaunan berayun-ayun pada siang harinya.

Awan putih meneduhkan hamparan hijau ilalang di pinggiran sungai.

Suasana sepi, hanya deru sungai yang mengalir seperti nyanyian alam mengantarkan relaksasi untuk beristirahat sejenak.

Pesona saat itu, membuat Bujang Nyire berpikir bahwa ia berhasil menepis berita buruk tentang sungai itu.

Hingga ia bersumpah sambil menepukan tangannya ke air sungai.

Ia berkata, “Wahai Sungai, Hulu dan Hilirmu adalah kehidupanku, sungguh engkau adalah rumahku, tiada tanda untuk bertuah, kecuali pelihara air dan tanah, sakit dan senang sama dirasa, sumpah serapah menjaga mala petaka”.

Baca Juga  Serunya Menjadi Sangker di Peransaka Nasional

Sambil tersenyum ia ludahi air sungai itu dengan sisa-sisa sirih yang ia kunyah.

Tak lama dari ucapannya, terdengar dari kejauhan suara air yang beriak seperti ada yang keluar dari sungai.

Gelombang lambut-melambut seperti petanda bala menyambut.

Suara burung-burung dan kera-kera di sekitaran hutan sungai itu menjadi gemuruh ketakutan.

Riakan airnya menggerakan sampan, tangannya gemetar memegang dayung, ia melihat dan mendengar suara kepakan sayap burung di pepohonan gelam dan kera-kera yang berlarian ketakutan.

Segera diambilkannya pisau yang ia bawa sambil menepi ke pinggiran sungai.

Cuaca yang cerah perlahan berubah menjadi teduh.

Sumpah Bujang Nyire mengubah seisi sungai menjadi tak seperti biasanya, air yang tadinya tenang menjadi pasang bergelombang.

Baca Juga  Diduga Palsukan SP3AT, Oknum PNS di Bangka Selatan Dipolisikan

Rintikan hujan menyambut, semakin deras di bawah sinar mentari di siang itu.

Basah bukan kepalang, berteduhlah Bujang Nyire di bawah pohon beringin yang sangat rimbun, di sampingnya cucuran air terus menetes ke tanah mengalir dari akar-akar yang bergelantungan.

Nampak dari kejauhan, seorang perempuan muncul dari semak belukar, menggunakan baju putih dan berwajah pucat menatap Bujang Nyire sambil tersenyum dari seberang sungai.

Bujang Nyire pun keheranan, dikiranya hanya ia seorang diri yang berada di sekitaran sungai itu.

Tetapi, ternyata ada seorang perempuan cantik yang tidak ia kenali dan belum pernah ia jumpai selama ini.

Setelah hujannya berhenti, perempuan itu pun pergi dengan sendirinya.

Kejadian itu, membuat Bujang Nyire menceritakan pengalamannya kepada sahabatnya Si Gusong.