Mereka pun berjalan memasuki hutan rimba, dijumpainya sungai yang jernih, pohon-pohon gaharu hingga pohon-pohon besar.

Jika dibayangkan, pohon itu hanya bisa dipeluk oleh empat orang bahkan lebih.

Setelah sampai, pohon-pohon beserta seisi hutan itu berubah menjadi alam lelembut yang hanya mampu dilihat oleh orang-orang tertentu.

Bon melihat rumah-rumah mereka roboh dan rusak, akibatnya Bon malu dan meminta maaf atas ulah yang sudah dilakukan oleh orang-orang dari desanya.

Bon berjanji akan memberitahukan kepada orang-orang desa agar tidak mengganggu dan merusak hutan rimba ini lagi.

Namun, sepakatnya makhluk di rimba itu juga tidak boleh mengganggu manusia.

Di sisi lain Bon juga terkejut melihat beberapa orang yang sudah meninggal dunia di desanya berada di dalam alam itu.

Mereka adalah Jin Qorin yang perilaku dan wajahnya juga sangat mirip dengan orang yang masih hidup saat di dunia nyata.

Baca Juga  Kesal Sumur Tercemar, Warga Dusun IV Desa Rajik Blokade Pintu Gerbang Tambak Udang

Mereka menyapa Bon sambil tersenyum mengabarkan keberadaan mereka ditempat itu.

Setelah cukup lama, hubungan Bon dengan penghuni hutan rimba semakin akrab dan dekat.

Sering kali kedua laki-laki yang dijumpai Bon pada waktu itu, kembali menjumpainya dan bertamu kerumah Bon yang berada di Desa.

Di lain waktu juga mereka juga datang untuk melaporkan ulah manusia yang lagi-lagi jahil mengambil kayu di hutan rimba.

Dengan perasaan kesal, Bon mengumpulkan seluruh perangkat desa dan masyarakatnya untuk membahas tentang keberadaan hutan rimba.

Hasilnya disepakati hutan rimba menjadi hutan terlarang yang dijuluki sebagai Rimba Keratung.

Semua masyarakat pun telah sepakat untuk menjaganya.

Suasana desa menjadi damai, hasil alam dari berladang dan berkebun lada juga berlimpah ruah menjadi manisnya kehidupan di desa itu.

Kondisi itu membawa berkah dan lahirlah suatu acara desa yang dilakukan secara bersama-sama, bergotong royong, kekeluargaan dan persaudaraan yang erat antara sesama masyarakat desa.

Baca Juga  Puncak Perayaan Cap Go Meh di Bangka, Panitia Puri Tri Agung Siapkan Kuliner Gratis

Acara desa itu adalah pesta perkawinan massal yang diartikan sebagai pernikahan serempak oleh muda-mudi yang saling bertemu disaat masa panen tiba.

Di saat pesta itu dilaksanakan, maka mahkluk-makhluk dari negeri Rimba Keratung pun berdatangan dan ikut membantu menjaga keamanan desa dari orang-orang yang berniat buruk terhadap desa itu.

Semua kegiatannya dipimpin oleh Bon sebagai Dukun Kampung, diawali dengan ritual yang dilakukannya sebelum satu hari pelaksanaan pesta.

Mantra-mantra pun ia tuturkan dalam ritual yang dilakukannya ditengah malam, tepat berada di dalam hutan terlarang.

Assalamualaikum Bumi Ibuku.. Assalamualaikum Langit Bapakku… Dari Wali Wali… 44 Wali… 44 Keramat… 44 Malaikat… Asal Kampung Terjadi… Penghuni Rimba Keratung… Keramat Wali.. Abuk Bedang Gala…!” ucap Mantra Bon.

Baca Juga  Lokus Stunting di Bangka Selatan Turun

Sambil memegang daun keremuse dan membawa satu buah lilin, ia doakan air di dalam poci yang akan ia percikan di setiap penghujung arah mata angin.

Setelah itu ia memasang lilin di antara perbatasan desa sambil mengucapkan doa agar dapat membatasi niat jahat orang lain yang ingin menggagalkan acara pernikahan.

Melalui ritual lilin itu, ia percayai “Barang siapa yang melewati lilin tersebut dengan niat jahat, maka setelah melewatinya niat jahatnya akan terasa hampa dan hilang”.

Sesaji atau syarat yang sudah ia persiapkan seperti kue-kue, ketan dan ayam bakar, tanah, api, beras kuning, dan air adalah melambangkan keberkahan atas rasa syukur panen mereka, serta mendoakan kelanggengan hubungan pernikahan yang dilakukan di desa itu yang dikenal dengan nama Desa Serdang.

Tamat

Penulis adalah Pamong Budaya Bangka Selatan