Oleh: Dwikki Ogi Dhaswara

LEGENDA BUDAYA, TIMELINES.ID — Tepat tengah malam pada malam Jumat kliwon, di salah satu desa yang sepi mencekam hanya suara jangkrik dan lolongan anjing yang bergema pada malam itu.

Di pinggiran rumah yang berdinding papan terdengar setapak langkah yang menggebu, membuat suasana menjadi berdetak risau seperti memikirkan jiwa-jiwa yang lama kembali hadir dan menampakan diri.

Tangan gemetar memegang bantal dan menutupi telinga, berharap suara-suara itu hilang, membuang gundah gulana dan menutup bayang-bayang purnama.

Ingin kembali tertidur, terlelap oleh gelap hitam dan terdiam oleh kelam kegelapan.

Tersiksa seorang diri pada fenomena malam yang berbalut kesepian mengancam diri, keringat dingin lembab ngilukan tulang seorang pemuda yang biasa dipanggil Bon.

Ranjang papan beralaskan tikar dengan bantal kapuk, menjadi pengikat mimpinya pada malam itu.

Tubuhnya menggigil beranak gelisah, larut dalam mimpi yang berkabut.

Baca Juga  Perkuat Sinergitas, Polsek dan Koramil Payung Gelar KRYD

Di dalam mimpinya, ia jumpai seseorang yang mengaku leluhurnya dari tanah jawa, membawa satu buah batu mustika.

Wajahnya bercahaya, seperti jiwa yang nyata akan keberadaannya memberikan sebuah benda, lalu benda itu masuk dalam rongga mulutnya.

Tak lama seseorang itu menghilang beserta nuansanya yang meninggalkan satu aroma pertemuan.

Di pikirannya hanya tersirat sosok pria putih yang melambai lalu menghilang.

Dengan dada tersesak Bon bangun dari tidurnya, suara kokokan ayam dan azan yang telah berkumandang menandakan waktu subuh, lampu lentera yang berada di tengah rumahnya pun sudah mulai meredup.

Ia lekas bangkit dan bersiap untuk melakukan aktivitas seperti biasanya dengan pergi berladang.

Berhari-hari ia lalui, namun Bon tidak menyadarinya bahwa ada yang berbeda dengan dirinya saat ini.

Seringkali ia melihat bayang-bayang hitam yang lewat di sampingnya bahkan berjalan dari kejauhan, tetapi tak nampak jelas rupanya.

Baca Juga  Oknum Ustaz di Bangka Selatan Diduga Cabuli Belasan Santri Laki-laki

Semua ia hiraukan begitu saja, sampai ia benar-benar menyadari bahwa kemampuannya adalah dapat melihat sosok yang tak kasat mata menjadi jelas rupanya, apalagi sosok itu akan berbuat jahat kepada orang lain.

Setelah cukup lama, kemampuannya itu menjadikannya mahir hingga terbiasa melawan serta mengobati orang-orang yang terkena gangguan dari makhluk halus.

Ketika ia sudah bekeluarga, ia dijuluki sebagai dukun kampung yang terkenal di desanya.

Ia bertempat tinggal di desa yang banyak ditumbuhi pohon-pohon Serdang.

Konon pohon ini dilambangkan sebagai sifat yang kokoh, walaupun diterpa badai.

Berdaun bulat sebagai peneduh yang menjulang tinggi, hingga seringkali dijadikan tempat hinggapnya burung Elang.

Di desa itu, ada salah satu tempat yang sering ia lalui ketika akan pergi berladang.

Tempat itu berada di tengah hutan rimba yang ditumbuhi pohon-pohon besar.

Baca Juga  KPU Belitung Timur Tambah Jumlah TPS di Pemilu 2024

Seketika Bon melewati tempat itu, ia dihampiri dua orang laki-laki yang keluar dari hutan rimba. Bon menyadari bahwa kedua orang itu bukanlah manusia biasa.

“Ada apa kalian datang pada ku?” tanya Bon kepada dua orang laki-laki yang keluar dari hutan rimba.

“Maafkan kami, sudah mengganggu perjalanan mu! Sungguh kami tak ingin ada peperangan antara golongan kami dengan manusia! Kami ingin meminta bantuan mu, ada beberapa manusia dari desa mu yang sengaja dan berani menebang pohon-pohon di dalam hutan itu!” jawab salah satu laki-laki yang menghampirinya.

“Memangnya ada apa dengan pohon-pohon itu?” tanya Bon dengan keheranan.

“Ketahuilah wahai manusia, setiap pohon-pohon besar bahkan kecil yang berada di hutan itu adalah tiang-tiang, pagar dan dinding-dinding dari rumah kami! Untuk itu akan kami ajak engkau untuk melihatnya!” jawab laki-laki itu.