Legenda Ikan Kelek Pergam
Tak lama kemudian, mereka langsung menggalinya.
Rasa semangat yang menggairahkan mereka di saat itu membuat galiannya semakin dekat dengan sumber air.
Di kala itu Mang Yanto berteriak di hadapan anak-anak dan saudaranya, jika benar ada airnya maka ia akan bernazar atas rasa syukurnya.
Namun, rasa semangatnya itu membuat ucapannya tak terkendali. Benar di dalam lobang bulat yang semakin besar digali dengan rasa bahagia, mulai terlihat air-air mengalir dan terus bermunculan.
Tepat dihujaman galian terakhirnya, munculah air yang keluar deras dari bekas galiannya itu.
Bukan hanya air, tetapi ada beberapa ikan yang juga ikut keluar dari derasnya air yang terus memenuhi dinding-dinding tanah.
Rasa syukur dan bahagia mereka tak terbendung atas apa yang mereka rasakan.
Semua mata tertuju pada beberapa ikan yang berada di dalam sumur itu, ikan itu berwarna putih, mereka menyebutnya dengan Ikan Kelek Pute yang artinya Ikan Lele Putih.
Mereka meyakini ikan itu adalah ikan yang sudah sangat langka.
Air yang jernih dengan keberadaan ikan itu membuat Mang Yanto bahagia tak terkendali, sehingga munculah ucapan yang disaksikan oleh seluruh keluarganya di tempat itu.
Ia berkata “Demi air dan tanah, aku beserta anak dan keturunan, kubersumpah tidak akan memakan Ikan Kelek, jika kami berkhianat maka sang penciptalah yang akan melaknat”.
Sumpah yang ia ucapkan di hari itu, membuat semua keluarganya tertegun mendengarnya, namun seakan mereka menganggap hanyalah ucapan biasa.
Semua warga desa pun bahagia akan keberadaan air tersebut. Mereka tak perlu khawatir lagi untuk mencari dan mengambil air.
Hingga sampailah di mana kemarau telah berganti dengan musim rintikan air yang berjatuhan atas nikmat Tuhan.
Tersemat manis dan indahnya hari-hari dari warga desa, meninggalkan nestapa yang dua tahun ini menyayat jiwa.
Benak menyapa raut wajah Mang Yanto yang tersenyum bahagia.
Akan tetapi, sumpahnya sudah menunggu akan akibatnya. Putaran waktu pada masa lalu yang tak bisa lagi dirubah. Menjadi bait kisah baru yang berada di hadapannya.
Setelah sekian lama berlalu, cucu pertama dari Mang Yanto terkena imbas dari sumpahnya yang pernah ia ucapkan.
Dikarenakan ketidaksengajaannya memakan ikan kelek, kulitnya melepuh, panas dan gerah mirip seketika waktu kemarau yang lalu. Kenangan buruk kembali terulang menimpa seorang cucu yang tak bersalah.
Ucapan itu sungguh ia sesalkan, nam un apa daya ucapan tinggal kenangan, akibat tinggal menanti, hendak menyesal dibawah awan, namun alam menjadi saksi.
Sumpah itu menjadi pantang larang oleh seluruh anak dan keturunannya sampai saat ini, hingga menjadi legenda yang terakui dan terjaga oleh masyarakat di Desa Pergam.
Tamat
Penulis adalah Pamong Budaya Bangka Selatan.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.