Oleh: Briely Daffa Aufan

OPINI, TIMELINES.ID — Akhir-akhir ini kasus premanisme semakin marak di tengah-tengah masyarakat.

Dilansir dari website Polri Kepulauan Bangka Belitung kurang lebih telah terjadi tiga puluh tujuh kasus premanisme di Kepulauan Bangka Belitung pada bulan April 2023.

Beberapa dari kasus premanisme tersebut juga ada yang viral, dilansir dari media sosial Bangka Belitung.

Bahkan ada dua kasus premanisme yang tengah ramai dibicarakan saat ini.

Hal ini sebenarnya sangat bertentangan dengan kebudayaan serta norma dalam masyarakat dan akan menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat itu sendiri.

Menurut penulis sebenarnya tindakan premanisme ini tidak terlepas dari pengaruh aliran positif kriminologi.

Aliran ini menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh seseorang dipengaruhi oleh tiga hal, yang pertama adalah biologis, pelaku akan diperhatikan dari kondisi karakteristik fisiknya yang seperti penjahat atau tidak.

Baca Juga  Tua Itu Pencapaian

Apabila memang kondisi fisiknya memiliki karakteristik penjahat maka hal tersebut dapat mendorong seseorang untuk melakukan tindakan kriminal karena pengaruh fisik ini akan mempengaruhi lingkaran sosialnya dalam berinteraksi.

Orang yang memiliki karakteristik seperti penjahat cenderung akan dijauhi oleh masyarakat dan ini akan menyebabkan orang tersebut tidak mengerti bagaimana bentuk kehidupan sosial dan masyarakat yang seutuhnya.

Yang kedua adalah psikologis, seseorang dapat menjadi pelaku kriminal apabila kondisi psikologis orang tersebut terganggu seperti terkena gangguan mental, kecemasan berlebih, psikosis, neurosis dan lainnya.

Dampak daripada gangguan psikologis ini dapat menyebabkan seseorang berbuat hal yang sebenarnya tidak ingin dia perbuat namun akhirnya melakukan perbuatan tersebut bukan atas kehendaknya tersendiri.

Baca Juga  2 Mama Muda di Toboali Masuk Kategori Kasus Premanisme pada Operasi Pekat 2025

Faktor utama yang memicu adanya gangguan psikologis ini ialah pergaulan, dampak dari kondisi biologis yang sebelumnya pun dapat memicu terjadinya kondisi gangguan psikologis ini.

Yang ketiga adalah sosial positivisme, pengaruh yang ketiga merupakan pengaruh eksternal dari premanisme, seperti tingkat pendidikan rendah, kepadatan penduduk, distribusi kekayaan yang tidak merata dan lain hal sebagainya.