Rukok Sertung
Enam bahan tersebut dicampur dan usahakan merata. Kemudian gulung menggunakan daun pisang kapok (tematuk).
Bagian pangkal diikat meggunakan tali plastik. Jika ada bagian yang belum penuh masukkan campuran enam bahan. Setelah dirasa penuh, bagian ujung dirapikan dengan cara disispi ke bagian dalam.
Setelah rokok selesai, maka rokok-rokok akan dijampi-jampi supaya penderita lebih cepat sembuh.
Ciri khas rokok sertong buatan Bik Selami ini, bagian ujungnya lebih besar daripada bagian pangkal. Setiap rokok mempunyai ukuran 10 – 13 cm.
Kegunaan rokok sertung diantaranya:
1. sakit gigi
2. gusi bengkak
3. pening kepala berlebihan
4. Polip
5. Sinusitis
Menurut Bik Selami, jika orang yang merokok sertung terasa pedar, meresap-resap pedih disela-sela gigi, menyerang rongga penciuman maka bisa berakibat fatal yaitu rusaknya indera penciuman bagian dalam.
Siapa Bik Selami?
Bik Mi begitu ia biasa dipanggil oleh warga Namang. Ia merupakan janda setelah beberapa tahun yang lalu ditinggal mati oleh suaminya.
Tradisi membuat rokok sertung yang dilakukan oleh Bik Mi ini sudah turun temurun dan ia sudah generasi ketiga dari Nek Yot, dan sang ibu, Fatimah.
Proses pencarian bahan baku membutuhkan waktu ekstra.
Ia harus memesan dengan orang lain yang sering masuk hutan yang jauh dari perkampungan.
Baginya, bahan yang sulit diidapatkan yaitu kayu sertong, bedaru, dan kayu tetanggel.
Rusaknya ekosistem hutan membuat bahan-bahan pembuatan rukok sertong juga sulit didapat.
Termasuk obat-obatan herbal lainnya. Pembkaan lahan perkebunan berskala besar, tambang timah, illegal loging dan lain sebagainya.
Rokok sertong produksi Bik Mi Namang sudah mempunyai pelanggan tetap bahkan sudah dikirim sampai Jakarta.
Harga per batang dijual dengan harga Rp. 1000,- kalau untuk konsumsi sendiri.
Apabila untuk dijual kembali maka Bik Mi melepas pada harga 3 batang Rp. 5.000,-.
Dari beberapa alat yang sering digunakan Bik Mi, ada tiga alat dan satu kayu sertung berukuran sekitar 8 cm.
Empat benda tersebut merupakan peninggalan dari ibu Bik Mi yaitu Fatimah. Tiga alat tersebut yaitu:
1. Bangku
Bangku ini berfungsi sebagai alas untuk menggulung daun pisang dan obat-obatan lainnya.
2. Mata kikir
Alat ini berfungsi untuk memasukkan obat-obatan ke dalam gulungan daun pisang kapok (tematuk). Obat-obatan yang berada di dalam tidak boleh terlalu padat dan juga tidak boleh terlalu longgar.
3. Pisau helading
Pisau ini terbuat dari bamboo yang dibelah. Bagian ujung dibuat agak runcing seperti pisau yang terbuat dari besi stainless pada umumnya.
Pisau helading, dinamakan demikian karena biasanya alat ini digunakan untuk membuang kotoran pada kulit kepala.
Pisau helading peninggalan ibu Bik Selami ini fungsinya untuk merapikan daun pisang kapok (tematuk) supaya mudah saat proses penggulungan.
Meilanto, Budayawan yang tinggal di Bangka Tengah

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.