Selain itu, sejumlah jenis makanan atau minuman yang tidak boleh dikonsumsi selama menjalani diet ini adalah:

●Susu full cream dan produk olahannya, seperti keju dan yoghurt.
●Olahan gandum atau biji-bijian yang mengandung karbohidrat tinggi, seperti roti, nasi, dan pasta.
●Umbi-umbian tinggi karbohidrat, seperti kentang, ubi jalar, dan jagung.
●Buah tinggi karbohidrat, seperti mangga, pisang, dan nanas.
●Makanan olahan, seperti nugget, sosis, biskuit, dan keripik.
●Daging berlemak
●Minuman dengan tambahan pemanis buatan, seperti soda.

Manfaat Diet Telur Rebus

Utamanya, diet telur rebus yang dilakukan dengan tepat bisa membantu menurunkan berat badan dengan cepat, terutama jika diimbangi dengan rutin berolahraga. Pasalnya, diet ini mengutamakan konsumsi makanan yang rendah kalori sehingga cenderung lebih efektif untuk mendapatkan defisit kalori (asupan kalori tubuh lebih sedikit daripada yang dibakar tubuh sepanjang hari).

Baca Juga  iPhone 15 Resmi Dirilis, 4 Series iPhone Tak Lagi Dijual Apple

Selain itu, karena dilakukan dengan membatasi asupan kalori dan lemak, diet dengan telur rebus juga bisa membantu menurunkan risiko obesitas, tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

Bahaya Diet Telur Rebus Jika Tidak Dilakukan dengan Tepat

Sebaliknya, jika tidak dilakukan dengan tepat, diet telur rebus justru berisiko menyebabkan malnutrisi. Hal ini dikarenakan diet telur rebus adalah salah satu pola diet yang tergolong ketat sehingga diet ini tidak dianjurkan untuk dilakukan dalam jangka panjang (tidak lebih dari 2 minggu).

Selain itu, dilansir dari Journal of Bone and Mineral Metabolism, diet ketat yang dilakukan dalam jangka panjang juga berisiko menurunkan tingkat kepadatan tulang sehingga berpotensi menyebabkan pengeroposan tulang dan mudah retak atau patah.

Baca Juga  Susun Rancangan Awal RPJPD 2025-2045, Pemkab Babar Kolaborasi dengan Berbagai Pihak

Bahkan, pada kasus yang lebih serius, diet telur rebus yang dilakukan tanpa memperhatikan rekomendasi asupan serat dan karbohidrat harian justru bisa meningkatkan risiko terjadinya gangguan sistem pencernaan hingga penyakit kardiovaskular.(***)