Kayu-kayu yang digunakan untuk memarung merupakan hasil dari tebangan rebak yang dipilih. Atap yang digunakan berupa daun rumbiak (Metroxylon sagu).

Daun rumbiak yang diambil atau disesap bagian daun yang tua. Daun-daun rumbiak dipepas kemudian digabungkan dengan cara disusun rapi. Bagian pangkal dan ujung harus searah.

Daun-daun disusun dengan menggunakan empat potong kayu yang ditancapkan ke tanah payak. Bagian bawah dipasang gelegar dari pelepah rumbiak.

Gelegar tersebut berfungsi untuk memudahkan memasukkan kulit rumbiak yang berfungsi sebagai pengikat. Daun-daun rumbiak yang disusun disebut dengan uyon.

Untuk satu pondok cukuplah sekitar empat uyon daun rumbiak atau tergantung dengan besar kecilnya pondok yang dibuat.

Baca Juga  KPU Pangkalpinang Umumkan 10 Nama Calon Anggota PPK di 7 Kecamatan

Daun-daun rumbiak selanjutnya dianyam dengan cara dilipat menjadi dua bagian. Setiap anyaman terdiri dari dua atau tiga lembar daun rumbiak. Ini bertujuan supaya atap lebih tahan lama.

Bagian dekat lipatan dipasang kayu yang disebut dengan mengkawan. Kayunya biasanya menggunakan kayu mengkelik atau bambu yang dibelah seukuran jari telunju orang dewasa.

Daun-daun rumbiak dijahit dengan inti resam. Bagian ujung dibuat runcing yang berfungsi seperti jarum untuk menjahit. Pada bagian atasnya, terdapat satu resam yang lurus yang tidak dibuang kulitnya untuk mengunci.

Daun-daun rumbiak tersebut yang nantinya digunakan untuk atap pondok. Setelah atap selesai dibuat kemudian dijemur. Hal ini bertujuan supaya saat dipasang nanti, atap tidak mengecil (ngeriung)

Sekitar tiga bulan batang padi mulai membesar. Pada bagian dalamnya terdapat cikal bakal padi.

Baca Juga  BPJS Kesehatan Pangkalpinang Dorong Rumah Sakit di Babel Terapkan Antrian Online

Proses ini disebut dengan padi bunting. Apabila padi sudah bunting maka harus dijaga secara ekstra mencegah supaya jangan sampai gagal ngetam. Siang malam harus mengusir hama.

Berbagai macam alat untuk mengusir hama seperti burung prêt, belalang, kera, lutung, ulat-ulat dan lain sebagainya.

Alat-alat itu seperti membuat pagar berupa kayu atau kawat yang pada bagian-bagian tertentu sekian meter disisipi kaleng-kaleng bekas supaya saat babi, kera atau lutung hendak masuk ke ume dan kena kawat atau kayu maka akan mengeluarkan bunyi yang membuat hama-hama tidak jadi masuk ke ume. (Bersambung)

Meilanto adalah Seorang Penulis, Pegiat Sejarah dan Budaya