Laki-Laki Lebih Rentan Selingkuh? Ini Jawabannya
Tidak benar bahwa laki-laki lebih berisiko selingkuh
Secara teori evolusioner, dikatakan bahwa pria lebih rentan berselingkuh atas alasan mempertahankan keturunan. Sementara itu, perempuan selalu diharapkan untuk hidup setia dengan satu pasangan, bahkan sejak zaman purba.
Anehnya, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Evolution and Human Behavior tahun 2014 menunjukkan hal yang berbeda.
Setelah mengamati lebih dari 7.000 anak kembar asal Finlandia, ditemukan bahwa wanita yang membawa mutasi gen reseptor vasopresin dalam otaknya memiliki kecenderungan untuk selingkuh.
Vasopresin merupakan hormon yang diproduksi di hipotalamus otak dan disimpan dalam kelenjar pituitari pada bagian depan otak.
Hormon ini dilepas bersamaan dengan oksitosin, “hormon cinta” yang diproduksi tubuh ketika kita melakukan kontak fisik dengan orang lain, misalnya berpelukan, berciuman, atau berhubungan seks.
Vasopresin berperan besar terhadap perilaku sosial manusia, seperti kepercayaan, empati, dan ikatan seksual. Seks mengaktifkan hormon bahagia, yang justru memperkuat nilai seks sebagai aktivitas untuk mendekatkan hubungan bagi perempuan.
Pelepasan hormon bahagia juga memperkuat kecenderungan untuk bermonogami dengan pasangannya saat ini.
Jadi, masuk akal bahwa mutasi pada gen reseptor vasopresin (yang dapat mengubah fungsinya) bisa memengaruhi perilaku seksual perempuan.
Menariknya, mutasi gen ini tidak ditemukan pada pria. Namun demikian, peneliti masih belum mengetahui apakah mutasi gen pada reseptor vasopresin yang terkait dengan perselingkuhan benar-benar membuat otak jadi kurang responsif terhadap efek hormon tersebut.
Apakah semua orang yang mengalami mutasi gen akan berselingkuh?
Di atas semua itu, faktor biologis bukan satu-satunya faktor yang berperan dalam perselingkuhan. Faktor lain seperti ekonomi, masalah emosional, dan penyalahgunaan alkohol juga diketahui memiliki peran besar dalam kemungkinan seseorang berselingkuh.
Pada akhirnya, meski hormon dan genetik sedikit-banyak memengaruhi perilaku kita, keputusan akhirnya ada pada diri Anda sendiri; apakah memilih untuk tetap setia atau mendarat di hati yang lain.(Dilansir dari Hellosehat.com)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.