Klaustrofobia (Ambil Napasku)
Lift berhenti jatuh entah di mana. Aku terduduk sembari memeluk kedua kakiku yang kutekuk. Saat itulah aku menangis sesengukan dan tubuhku —terutama bagian jari— bergetar sangat hebat.
Kendalikan dirimu!
Napasku tiba-tiba tersengal. Hal ini diperburuk dengan kepalaku yang pusing dan pandangan yang berkunang-kunang.
Kini, aku bahkan bisa mendengar detak jantungku yang sangat keras. Serasa jantung ini akan berdetak kencang hingga menembus dadaku.
Sesaat aku ingin menelpon ibuku, tapi tanganku bahkan tidak bisa meraih ponsel yang berada di dalam tas tanganku.
Tetap sadar….
Tiba-tiba saja tangisku mereda, rasa takutku berubah menjadi shock yang dasyat.
Tubuhku mati rasa, suara-suara perlahan memudar. Awalnya aku bisa melihat sedikit cahaya dari celah pintu lift, namun kini semuanya menjadi gelap seluruhnya. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.
Tetaplah hidup….
*****
Sementara itu, dua orang teknisi lift dan beberapa petugas penyelamat sedang berusaha memperbaiki lift.
Awalnya hanya kerusakan biasa yang menyebabkan lift macet, apa yang tidak mereka duga adalah lift akan jatuh sampai ke dasar. Mereka tidak tahu penyebabnya.
“Kenapa mereka tidak memberi tanda peringatan? Ini bukan pertama kalinya lift rusak,” keluh seorang teknisi.
“Ssst… diamlah. Mereka bisa mendengarmu,” ujar teknisi lainnya.
Lift jatuh tepat di dasar apartemen. Sedikit lebih rendah daripada lantai 1.
Beberapa penghuni apartemen bahkan menyaksikan sesi evakuasi ini. Petugas penyelamat harus menggunakan setelan pengaman agar bisa turun menggapai lift.
Sekitar hampir satu jam mereka berusaha membuka pintu lift yang tertutup dengan membukanya secara paksa dengan alat khusus.
“Kukira mereka sudah memasang tanda bahaya, ternyata tidak.” Seorang wanita paruh baya berbisik kepada suaminya.
“Sudah kubilang mereka tidak akan mendengar keluhan kita. Tidak sampai ada korban,” sahut suaminya dengan kesal.
“Aku tidak akan pernah mau naik lift lagi!”
Seorang pria muda yang menjadi salah satu petugas penyelamat mendengar percakapan kedua pasangan suami istri tersebut.
Kebetulan dia juga yang ditugaskan turun melakukan evakuasi. Dalam hati dia hanya bisa mengutuk siapapun pengurus tak bertanggung jawab tersebut. Akan tetapi, dia tetap fokus dengan tugasnya.
Pintu pun berhasil terbuka, dia menemukan seorang wanita muda yang sedang duduk meringkuk dengan mata terbelalak. Tanpa ekspresi dan tidak bergerak, hanya mata dengan sorotan ketakutan.
“Nona, jangan khawatir. Pegang tanganku dan aku akan mengeluarkanmu,” kata petugas penyelamat muda. Namun wanita itu tetap diam, sama sekali tidak terpengaruh dengan keberadaan petugas itu.
“Nona? Anda baik-baik saja?” Wanita itu masih tidak meresponnya, entah ke mana pikiran wanita itu berada sekarang.
Itu pemandangan yang cukup mengerikan. Seorag wanita duduk meringkuk dengan mata terbelalak tanpa ekspresi. Tidak mampu merespon, tidak mampu bergerak. Seolah raganya ditinggal pergi jiwanya.
Petugas itu meringis kecil sebelum menghubungi seseorang lewat HT, “Arie, tolong bantu! Hubungi rumah sakit. Sepertinya korban kita mengalami shock berat.”
Mungkin… atau seandainya mereka tahu apa yang baru saja wanita itu lewati di dalam sana.
Shiela Fiorencia Caroline, Siswa SMKN 1 Sungailiat, penulis buku cerpen Tiga Menit Hening

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.