Wajah cantik Camelia sampai menoleh ke samping akibat kerasnya tamparan papanya.

Camelia tidak menangis sedikit pun. Ia hanya menatap wajah papanya dengan sendu.

“Aku akan menikah dengannya. Aku juga akan masuk Islam,” ujar Camelia tanpa rasa takut.

“Kamu rela meninggalkan agamamu demi menikah dengannya? Papa tidak setuju,” jawab Damian.

“Aku yang telah berbuat, maka biarkan aku bertanggung jawab. Biarkan aku masuk Islam,” mohon Camelia sambil menangkupkan kedua tangannya.

“Saya akan menjaga Camelia dan anaknya sebaik mungkin. Dan saya akan berusaha memberikan kebahagiaan kepada Camelia setelah masuk islam,” celetuk Farhan setelah ia diam di sofa melihat perdebatan anak dan ayahnya.

“Camelia, Papa tidak setuju. Mamamu meninggalkan kita karena lebih memilih agamanya. Apakah kamu mau meninggalkan Papa juga sama seperti mamamu?” lirih Damian.

“Mama tidak meninggalkan kita. Mama selalu ada untuk kita. Sama dengan ku nanti, aku akan selalu ada untuk Papa. Tidak ada yang berubah. Biarkan aku masuk Islam Pa,” ujar Camelia.

Damian berjalan menuju pigura foto keluarganya. Terdapat Damian, Aisyah dan Camelia yang masih bayi tertawa bahagia.

Baca Juga  Bunga Maaf

Damian menikah dengan Aisyah yang beragama Islam. Awal pernikahannya berjalan dengan lancar. S

etiap hari, Damian akan menemani Aisyah ke masjid untuk sholat. Begitu pun sebaliknya, Aisyah akan menemani Damian ke gereja setiap hari Minggu.

Hingga, puncaknya saat Camelia lahir. Para keluarga bertengkar hebat karena ingin memberikan nama untuk Camelia.

Damian ingin anaknya diberikan nama Camelia Cristalia. Sedangkan Aisyah, ingin anaknya diberikan nama Anisa Nur Jannah. Karena perdebatan yang tidak ada ujungnya, Aisyah memilih bercerai dari Damian.

Damian menangis sambil memeluk foto tersebut. Ia menghembuskan nafas sebentar.

“Menikahlah dengannya. Masuklah Islam, tetapi jangan pernah lupakan bahwa kamu masih punya Papa di sini,” ujar Damian lirih.

Camelia menangis haru dan segera memeluk Papanya erat. “Terima kasih Papa,”

*

Tanpa sadar, Kini pernikahan Farhan dan Camelia sudah berjalan hampir tiga bulan. Usia kandungannya pun kini sudah berjalan empat bulan.

Setelah pernikahannya, ia diajak Farhan tinggal dirumahnya yang sederhana.

Ternyata, Farhan adalah seorang guru Pai di sekolah dasar. Ketika sore, Farhan akan mengajari mengaji anak-anak yang dekat perumahannya.

Pagi ini, Camelia nampak lebih cantik dengan gamis polkadot hijau dengan paduan hijab putih yang telah diberikan Farhan kala di jembatan saat menyelamatkannya.

Baca Juga  Legenda Ikan Kelek Pergam

Ternyata, pasmina itu Farhan ingin hadiahkan untuk anak didiknya. Namun, karena melihat Camelia yang tidak menutup auratnya dengan benar, Farhan pun memberikannya untuk Camelia.

Camelia kini sedang memasukkan nasi dan lauk-pauk ke dalam kotak bekal suaminya. Tak lupa, ia juga menyiapkan botol yang berisi air minum.

Tiba-tiba, ada tangan yang memeluknya dari belakang. Camelia nampak terkejut, ia memukul pelan lengan suaminya yang memeluknya tiba-tiba.

“Mas ngagetin aja deh,” ujar Camelia cemberut.

“Hehe, maafin Mas ya. Dedek sehatkan di dalam sana?” tanya Farhan sambil membalikkan tubuh Camelia menghadap dirinya. Ia mengelus pelan perut Camelia yang sudah nampak buncit.

“Alhamdulillah, dedek sehat Ayah,” ujar Camelia sambil tersenyum.

“Alhamdulillah. Nanti pulang mengajar, dedek mau dibawakan apa?” tanya Farhan.

Camelia nampak cemberut. Ia menghembuskan nafas pelan. “Dedeknya aja nih yang ditanya, Bundanya enggak?”

Farhan terkekeh geli melihat Camelia yang cemburu pada anaknya sendiri. Ia mencubit pelan pipi Camelia.

“Masa cemburu sama anaknya sendiri sih Bumil. Ya udah, Ayah tanya bunda mau apa?”

Baca Juga  Senandika: Sembilan Hari Tanpa Engkau, Berteman Lagu Cinta (bagian 8)

“Emm, Mau ayam bakarnya mang Sobirin didekat pom bensin ya,” ujar Camelia dengan antusias.

“Oke boleh. Mas berangkat dulu ya. Hati-hati di rumah,” pamit Farhan sambil mencium kening Camelia dan memeluknya lama.

Camelia sangat bersyukur karena pernah dipertemukan dengan sosok laki-laki seperti Farhan.

Lelaki yang baik, yang taat kepada peraturan Allah, sangat menghormati perempuan, bahkan ia juga memperlakukan istrinya bagaikan seorang ratu.

Sungguh, tak pernah sedikitpun Camelia menyesal menikah dengan Farhan.

Ternyata, perkataan Farhan kala itu saat ia akan bunuh diri mengenai ia akan mendapatkan ketenangan setelah mengenal Allah, benar.

Ia bahkan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan berkali-kali lipat. Ia mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.

Camelia tak berhenti-henti bersyukur atas takdir Allah yang telah diberikan kepadanya.

Mungkin, Camelia memang perempuan yang telah bernoda, tetapi tidak ada salahnya jika ia mendapatkan suami yang lebih baik darinya bukan?

Khoiriah Apriza, Siswa SMAN 1 Airgegas, sudah menulis beberapa buku cerpen salah satunya berjudul Ayah Aku Rindu.