Untuk menangkal ini maka pepohonan yang terletak antara ladang ume dan jalan harus ditebas atau dibersihkan.

c. Motong tumbak

Kepala tumbak berarti tanah tempat keluarnya sumber mata air. Secara umum tumbak berada di tanah yang agak cekung, kemudian mengalir dan menyatu dengan anak sungai atau aik.

Motong tumbak adalah tradisi pantangan dalam beume apabila ladang memotong kepala tumbak. Menangkalnya dengan cara membuka ladang baru dimana tumbak tidak memotong ladang atau lahan yang dialiri mata air masuk semua dalam satu lokasi ladang.

d. Pengait

Pola pengait yaitu apabila ada dua ladang yang berdampingan dengan luas yang berbeda dalam satu lokasi/ hamparan, atau disebut juga dengan berkait.

Untuk menangkal ini adalah dengan menambah luas ladang yang lebih lecil menjadi sama dengan ladang yang satunya lagi atau mengurangi luas ladang yang lebih besar agar sama dengan ladang yang kecil yang berada di sebelahnya.

Baca Juga  KPU Belitung Timur Lantik 34 Orang Terpilih Menjadi PPK

Apabila pantangan ini dilanggar maka akan berakibat fatal atau bahkan bisa menyebabkan kematian.  

e. Ladang melewati jalan usang

Jalan usang merupakan jalan yang lama yang telah ada sebelum lahan ume dibuka.

Jika membuka lahan ume melewati jalan usang maka akan berakibat fatal bagi petani. Untuk menghindarinya dengan cara membuat atau menghilangkan sudut lahan kecil yang melewati jalan usang.

f. Ume betanjung

Ume betanjung yaitu ume atau berhadapan dengan tanah berbentuk tanjung, biasanya makhluk halus penghuni tanjung akan masuk atau mendatangi ume yang ada di depannya.

Untuk mencegahnya dilakukan sarat dengan memasang cermin menghadap tanjung pada perbatasan ume. Dibelakang cermin dipancangkan kayu yang ujungnya bercabang dan diruncingkan.

Baca Juga  Nujuh Ari atau Milang Ari

Pada bagian yang bercabang digunakan untuk sandaran cermin dan juga berfungsi untuk penyangga cermin. Sarat berikutnya yaitu meletakkan bulu jubur (rambut dari lubang anus) yang berfungsi untuk menakut-nakuti makhlus halus tersebut.

Sedangkan cermin digunakan makhluk halus untuk bercermin. (Bersambung)

Meilanto, Penulis, Pegiat Sejarah dan Budaya