3. Membantu Mendeteksi Kelainan Genetik

Pada beberapa kasus, dokter akan menggunakan sampel air ketuban untuk memeriksa apakah ada kelainan genetik pada janin. Pemeriksaan ini secara medis dikenal juga dengan sebutan amniosentesis, biasanya dilakukan pada usia kehamilan 15–20 minggu. Pemeriksaan ini bisa dilakukan karena di dalam air ketuban terkandung serpihan sel kulit janin.

4. Menjaga Suhu Ideal

Kantong ketuban dan cairan di dalamnya dapat menjaga suhu ideal agar janin tetap merasa nyaman. Umumnya, suhu air ketuban mencapai 37,6 derajat Celcius, lebih tinggi daripada suhu tubuh ibu.

5. Melindungi Janin dari Benturan dan Infeksi

Fungsi lain dari air ketuban adalah melindungi janin dari benturan, guncangan, hingga tekanan yang berasal dari perut ibu. Di samping itu, air ketuban mengandung neutrofil yang juga berfungsi untuk menghentikan pertumbuhan jenis patogen tertentu sehingga bisa melindungi janin dari infeksi.

Baca Juga  5 Cara yang Dilakukan Remaja Untuk Menghindari Penyalahgunaan Narkoba

6. Membantu Perkembangan Organ Janin

Fungsi berikutnya dari air ketuban adalah mendukung perkembangan organ janin, seperti paru-paru dan sistem pencernaan. Pada usia kehamilan 10–11 minggu, janin akan menghirup sedikit air ketuban, yang mana aktivitas ini bisa menunjang perkembangan paru-paru.

Kemudian, pada usia 32 minggu kehamilan, janin sudah bisa melakukan gerakan bernapas yakni perpaduan antara menelan air ketuban dan kontraksi paru-paru.

Tidak sampai di situ, air ketuban juga berperan penting dalam perkembangan sistem pencernaan janin melalui gerakan menelan air ketuban yang dilakukannya selama di dalam kandungan.(Dilansir dari Siloamhospitals.com)