“Lalu dibawa dengan keranjang ke pinggir sungai, dilimbang, dimurnikan, kalau timahnya sudah habis maka penambang ini akan alih atau bergeser,” ungkapnya.

Dalam manuskrip lama kata Toboali ditulis Toboalih yang akhir hurufnya menggunakan huruf H.

“Jadi itu adalah nama teknologi penambangan timah pribumi Bangka dan teknologi itu digunakan sampai dengan tahun 1757. Jadi cukup lama teknologi ini digunakan dan disebutkan di dalam tulisan-tulisan sejarah dan masih digunakan pada akhir masa kekuasaan Sultan Mahmud Badarudin I Jayo Wikromo,” beber Elvian.

Sehingga, jika ditelusuri kapan timah mulai dieksplorasi besar-besaran? “Kita lihat Sultan M Mansyur Jayo Ing Lago menandatangani kontrak perdagangan timah dengan VOC tahun 1710. Artinya sebelum itu timah itu sudah ditambang di Bangka. Jadi tahun 1708 sudah ada penambangan timah dengan teknologi Toboalih dan itulah merupakan cikal bakal nama Kota Toboali,” ungkapnya.

Baca Juga  Peringati HUT ke-74, Satpolairud Polres Basel Doa Bersama dan Berbagi dengan Anak Yatim Pesisir

Mengapa diambil tanggal 25 Oktober 1708? “Karena pada tanggal itu Kesultanan Palembang Darusalam M Mansyur Jayo Ing Lago dilantik sebagai Sultan dan membuat kebijakan untuk membangun parit-parit pertahanan dan sekaligus berfungsi sebagai pengairan, menggali tanahnya dan diambil timahnya” ujar pria kelahiran Desa Jeriji, Bangka Selatan ini.

Penggalian parit-parit itu lokasinya berdasarkan peta-peta lama disebut di Old Toboali (Toboali lama) yang terletak di antara Bakon dan Sungai Tagak.

“Itulah cikal bakal Kota Toboali yang kemudian dipindahkan tahun 1757 ke Tanjung Sabang dekat Benteng Toboali, tetapi orang pribumi Bangka dan orang cina tidak suka dengan penamaan Toboali baru itu. Mereka lebih suka menyebutnya dengan nama Sabang,” tambah Elvian.

Baca Juga  Dinkes Basel Catat 38 Kasus HIV, Slamet: Kita akan Sasar Kaum LGBT