Berawal dari Hobi, Wanita Ini Sukses Kembangkan Kebun Hidroponik di Pekarangan Rumah
Soraya juga menceritakan awal mula berternak kelinci di pekarangan rumahnya. Hal ini berawal dari keinginan sang buah hati ingin memilki hewan peliharaan. Ia dan suami pun mulai ‘hunting’ mencari inspirasi. Dan pilihan jatuh ke peternakan kelinci di Pangkalpinang yang membuatnya jatuh hati. Dari transfer ilmu yang ia dapat dari peternakan kelinci tersebut, Soraya dan Maryanto sepakat untuk mulai menernak binatang lucu ini.
“Ternak kelinci dimulai tahun 2021 yang waktu itu awal mulanya karna keinginan anak kami untuk mempunyai hewan peliharaan. Waktu itu kita sedang jalan ke Pangkalpinang, teringat ada peternakan kelinci disana. Mampir ke kandang kelinci Mas Nanang, niat awalnya mau lihat-lihat dulu. Ternyata begitu melihat, langsung klepek-klepek,” ujarnya sambil terkekeh kekeh.
Walaupun saat itu belum memiliki kandang, namun kadung cinta dengan kelinci ia pun membawa pulang sepasang kelinci jenis holland lop. Dari sepasang kelinci holand lop itu, Soraya pun menambahkan koleksi kelinci jenis lokal, rex, english angora, hycole, flemish giant dan hyla yang ia dapat dari kerabatnya.
Pada tahun 2015, Soraya menceritakan ia dan suaminya sempat membudidayakan lele dengan kolam terpal yang terintegrasi di bawah modul hidroponik. Namun, usaha tersebut terhenti karena saat itu masih tinggal di rumah orang tua.
“Jadi keinginan untuk punya kolam ikan itu masih ada, minimal untuk konsumsi sendiri. Kuatnya keinginan itu ya karena anak-anak kami suka makan ikan gurami dan nila. Mereka juga menyukai ikan hias. Termasuk tanaman konsumsi yang kami budidaya, adalah yang disukai oleh anak-anak. Ketika ketemu momentumnya dibuatlah kolam ikan, meskipun pemanfaatannya belum dimaksimalkan, tapi masih ada ikannya, gurame untuk konsumsi keluarga,” ceritanya.

Soraya berkeinginan memberikan manfaat dan berkontribusi dengan caranya. Menurutnya sesuatu yang sederhana kadang justru memberikan hasil yang membahagiakan. Dukungan terbaik ia dapatkan dari keluarga dan orang orang terdekat.
“Tujuan dan pencapaian yang kami harapkan tentu saja kami ingin memberikan manfaat yang lebih luas lagi. Bisa berkontribusi memenuhi kebutuhan masyarakat dengan produk berkualitas terjaga, sebagai bagian dari ketahanan pangan yang dimulai dari keluarga. Akhirnya kami dan orang-orang bisa sama-sama tersenyum dengan hasil yang diberikan,” ujar wanita Kelahiran Mentok, 9 September 1987 ini.
Walaupun tanpa basic keilmuan yang tidak ia dapat di akademik. Dengan latar belakang lulusan yang jauh dari dunia tumbuh-tumbuhan, Soraya mampu mengembangkan diri dari hobi yang ia geluti. Berbekal dari sebuah buku, artikel dan ilmu yang ia dapat dari orang orang berpengalaman serta berbagai pelatihan, menonton dirinya mampu menyerap ilmu dan memiliki segudang pengalaman dengan niat belajar yang kuat.
“Untuk basic keilmuan secara akademik, kami sama sekali bukan dari jurusan pertanian, kalau pendidikan terakhir saya jurusan MI. Belajar yang pasti kebanyakan dari membaca. Yang penting mau belajar. Terkadang, belum menemukan cara yang tepat, sering di anggap kegagalan. Tetap gigih, belum berhasil, coba lagi, coba lagi, coba lagi, sambil menambah wawasan. Pesan kami adalah KITA HARUS BERANI BERHASIL,” ucapnya sumringah.
Saat ini hasil budaya saya sayur hidroponik miliknya kerap dipasarkan secara online dan memilki pelanggan rumahan. Animo dan respon positif yang ia dapat inilah membuat dirinya terus ingin produktif dan berguna bagi orang banyak.
Siapa sangka obrolan iseng sepanjang jalan dengan suaminya di atas sepeda motor tahun 2014 silam membawanya ke dunia hijau yang menghasilkan banyak cuan dan tentunya dapat bermanfaat untuk orang banyak. (**)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.