Musibahnya adalah, mereka-mereka yang berkontestan sampai hari ini tidak menunjukkan kelayakan dan kecakapan.

Realitas ini semakin memperkuat adanya praktik politik dinasti, kemunduran besar atau bahkan kematian (obituari) bagi demokrasi di Indonesia.

Politik dinasti adalah ancaman besar bagi demokrasi; tidak substansial, tidak adil dan cendrung berpihak kepada keluarga/kerabatnya.

Begitulah keadaan yang tepat dalam menggambarkan politik dinasti.

Cara-cara ini mengabaikan kompetensi, sebab kekuasaan diberikan kepada keluarga terdekat tanpa melihat kapabilitas individu tersebut.

Padahal, amanat reformasi sudah sangat jelas untuk menghilangkan praktik KKN di negara ini. Politik dinasti dapat menjadi ancaman bagi kebangkitan praktik-praktik jahat di zaman orde baru.

Socrates pernah berkata politik yang ideal adalah politik adu ide dan gagasan, artinya bukan sebatas adu iklan dan besar-besaran baliho atau nyinyiran pada baliho/reklame di jalanan dengan berbagai kata dan slogan yang sejujurnya menggelikan mata.

Baca Juga  Indonesia Optimis Hadapi Tantangan Ekonomi 2023

Itu sebabnya penulis gunakan istilah KUMUH, jalanan dengan taman sebagai pembatas jalan menjelma menjadi dudukan bagi bendera partai, reklame yang harusnya memberikan informasi bersifat edukatif menjadi tempat fasilitas nyinyiran bagi mereka yang tak bernarasi dan hanya berbekal eksistensi.

Hindari memilih pemimpin atau wakil rakyat yang membangun politik dinasti, berpihak kepada oligarki dan tidak mempunyai gagasan konkret untuk kemajuan daerah dan negara.

Kita harus ambil peran dan kritis dalam memilih, sebab pilihan kita berdampak bagi keberlangsungan bangsa dan negara ini. Jadilah pemilih yang cerdas, selalu ingat bahwa kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat.