Menantang Balik Tantangan sebagai Guru
Oleh: Karto, S.Pd.,M.M.
OPINI, Hari ini hujan seperti tidak mau berhenti, membasahi setiap lekuk bumi yang beberapa bulan lalu dilanda kekeringan.
Tidak sengajapun hari ini terbangun dari tidur agak terlambat dibanding biasanya.
Badan ini seolah dimanjakan suara rintik hujan sedari subuh yang bahkan sedari malam terus turun berirama.
Kulihat di Handphone telah penuh berbagai notifikasi dan hampir semua status bertuliskan yang sama.
Ohh iyaa… 25 November, tentu hari spesial bagi guru seluruh Indonesia.
Hari yang biasanya dijadikan kesempatan merefleksikan diri tentang perjuangan persatuan guru di kala itu, merefleksikan diri sebagai guru, sudah sejauh mana kita melayani murid-murid.
Kulihat pula pesan Whatsapp telah ramai ucapan selamat, dari murid yang telah menjadi alumni, murid sekarang, dan anak-anak komunitas Pelajar Desa Serdang.
Sebagiannya memang agak nyeleneh, karena bahasa dan bahasan kesehariannya lebih sebagai teman dan seorang kakak yang menjaga adik-adiknya di komunitas untuk terjaga dan terhindar dari pergaulan yang keliru.
Belumlah sempet membalas satu persatu tulisan mereka, saya selalu teringat bahwa saya jugalah seorang murid. Mengirim pesan selamat kepada guru-guru saya menjadi rutinitas di hari spesial ini.
Sebuah bingkisan kecil dan tidak akan berbanding dari apa yang telah guru berikan kepada saya di waktu itu hingga sekarang.
Beberapa kawanpun terlihat di status media sosialnya memberikan ucapan pula kepada kedua orang tuanya, karena mereka adalah guru pertama di dalam keluarga, bahkan kepada guru ngaji, guru silat, dan guru-guru lainnya.
Ki Hajar Dewantara pernah mengucapkan bahwa “setiap orang adalah guru, setiap rumah adalah sekolah”.
Maka sangatlah panjang siapa saja yang ingin dibahas sebenarnya.
Karena bagi saya pribadi, hal ini bukan hanya tentang definisinya sebagai profesi, namun gambaran bagi siapa saja yang dianggap sebagai motivator hidup.
Bisa seorang pemimpin, guru silat, guru ngaji yang bahkan tak bergaji, atau siapapun yang terlintas dibenak kita ketika kata ‘Guru’ ini terlintas dikepala.
Jika ini kesempatan merefleksi, saya hanya ingin mengingat beberapa hal sebagai murid dahulu.
Ingat sekali di kepala ini, di masa-masa sekolah dasar, bagaimana masyarakat desaku memberlakukan guru-guru sekolah dasar maupun guru ngaji di desa yang sebagiannya merupakan guru-guru dari daerah lain.
Bagaimana kami diajarkan oleh kedua orang tua agar segan kepada guru, menghormati guru, membantu guru, bahkan di luar jam pelajaran seperti menjemur padi, menjemur lada, dan lain sebagainya.
Para orang tuapun melepas anak-anaknya untuk menghabiskan waktu membantu guru-gurunya tanpa bertanya terlebih dahulu tentang gaji seorang guru, cukup atau tidak, banyak atau tidak.
Orang tua kami ikhlas jika tenaga dan pikiran anak-anaknya berada di dekat guru-guru mereka karena mereka sadar bahwa gurauan, obrolan, perintah, dan larangan seorang guru mengandung pembelajaran yang mungkin saja tersirat makna di dalamnya.
Masih hangat terasa di tangan, rantang panas berisi makanan ketika Idulfitri tiba.
Berbondong-bondong kami membawa rantang dari orang tua masing-masing untuk disampaikan kepada guru kami, memakan makanan hari raya bersama, bercerita banyak hal, dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.