Oleh: Hutarina Budiani, S.Pd

OPINI, Sejak dahulu, pemahaman yang terjadi di masyarakat adalah pendidikan anak usia dini itu belajar baca, tulis, dan berhitung (calistung) sebagai persiapan untuk melanjutkan anak masuk ke sekolah dasar (SD).

Tidak sedikit orang tua/wali murid yang mendaftarkan anak ke tempat bimbingan belajar (bimbel).

Sikap ini membuat anak sulit berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya, karena anak terpaksa mengikuti kehendak orang tua.

Hal tersebut tentu tidak sesuai dengan dasar pendidikan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Bahwa pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggitingginya baik sebagai manusia ataupun sebagai masyarakat.

Baca Juga  Satlantas Polres Bateng Rutin Gelar Sosialisasi Nilai Pemolisian ke Anak Usia Dini

Oleh sebab itu, kita sebagai guru PAUD harus memahami betul bahwa kegiatan belajar anak usia dini harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan, menumbuhkan rasa penasaran, rasa ingin tahu dan memberikan pengalaman yang bermakna, yaitu melalui
bermain.

Kita menyadari bahwa bermain adalah salah satu prinsip pembelajaran PAUD dan bermain adalah kebutuhan setiap anak.

Karena sebenarnya melalui bermain secara tidak sadar mereka akan mengenal warna, bentuk, mengenal jumlah dan mereka juga melakukan gerakan fisik motorik.

Ketika bermain mereka juga berinteraksi sosial dan emosional.

Proses untuk mencapai merdeka belajar bagi anak usia dini selain melalui metode bermain sambil belajar, ada beberapa hal yang mesti dilakukan, yang pertama adalah melakukan asesmen awal.

Baca Juga  HUT ke-260 Sungailiat: Menjaga Warisan, Meramu Masa Depan

Asesmen itu sendiri artinya adalah proses pengumpulan informasi tentang perkembangan dan pertumbuhan anak.

Penilaian ini harus didukung oleh bukti sebelum guru menentukan kegiatan pembelajaran seperti apa yang sesuai untuk anak.
Namun faktanya di lapangan, masih banyak yang belum memahami betapa pentingnya melakukan asesmen awal pada anak.

Dengan melakukan asesmen kita akan merasa terbantu dalam mengidentifikasi anak-anak dalam keterlambatan ataupun kemajuan perkembangan.

Kita dapat melakukan pengamatan dengan mendampingi anak bermain sambil mengajukan pertanyaan pemantik dan memberikan semangat.

Dalam proses tersebut, kita bisa mendapatkan data untuk asesmen, misalnya dari jawaban anak, gestur anak, ide atau imajinasi, cara anak berinteraksi dan lain sebagainya.

Baca Juga  Mengapa Harus Ki Hajar Dewantara? 

Sehingga kita bisa mengetahui kemampuan dasar anak dan kondisi awal mereka sebelum kita merancang suatu pembelajaran.

Hal kedua yang harus dilakukan setelah kita melakukan asesmen awal adalah merancang pembelajaran yang berpusat pada anak.