“Dahulu, hutan tersebut seperti harta tersembunyi bagi desa kita ini. Banyak warga yang berladang, berkebun di dalam hutan. Segala tananam tumbuh subur di hutan itu. Tak hanya itu, ada rotan, jati, damar, dan banyak pohon-pohon besar yang diambil kayunya untuk bahan baku pembangunan. Sebagian besar rumah warga di desa ini, ya berasal dari kayu yang diambil dalam hutan tersebut. Selain itu, hutan itu juga menjadi tempat satwa hidup dan berkembang. Bahkan dalam hutan itu, terdapat sumber mata air yang cukup dipakai warga desa bila sumur mereka kering saat musim kemarau panjang. Pokoknya, semua hasil alam yang terdapat dalam hutan tersebut, sangat bermanfaat bagi seluruh warga desa sini,” cerita Ayah Sagam.

“Lalu, kenapa hal itu tidak dilakukan lagi?” tanya Sagam.

“Tiga tahun lalu, Pak Kades terdahulu melarang warga desa memasuki wilayah hutan. Ia beralasan hutan itu milik Pemerintah dan siapa yang berani memasuki hutan tanpa izin akan dihukum berat. Dulu, pernah ada seorang warga yang nekat memasuki hutan untuk mencari kayu. Tak berapa lama, Pak Kades beserta segerombolan pria berbadan tinggi dan tegap membawa warga tersebut ke kota, dan sampai sekarang warga itu tak pernah kembali ke desa ini. Sejak saat itulah, warga desa tak berani lagi memasuki wilayah hutan itu.” Jelas Ayah Sagam.

“Bahkan setahun yang lalu, ada kabar bahwa bagian dalam hutan terbakar. Kepulan asap hitam terlihat di atas wilayah hutan, dan asap pun sempat mencapai perumahan warga. Namun, tak ada seorang pun yang berani memasuki hutan untuk mencari tahu,” timpal Bu Darmila.

“Sejak saat itu, perekonomian di desa ini menjadi sulit. Banyak warga yang pindah atau mencari penghasilan di kota sana. Padahal di sini memiliki hasil alam yang melimpah yang cukup untuk dimanfaatkan bagi warga desa. Memang sungguh disayangkan.” Lanjutnya.

“Lalu, kenapa mobil-mobil pick up itu memasuki hutan. Apa sebenarnya tujuan mereka?”

“Kalau menurut info yang beredar dari grup WA Ibu-Ibu desa sih. Katanya, mobil pick up itu masuk untuk nebang pohon di hutan kita. tapi, ibu ga’ tau tujuannya mereka melakukan itu untuk apa,” jawab Bu Darmila. Ayah beserta Sagam mendengarkan dengan seksama.

Baca Juga  Senandika: Sembilan Hari Tanpa Engkau, Berteman Lagu Cinta (Bagian 6)

“Memangnya mereka sudah izin ke Pak Harto untuk menebang pohon di desa ini?” tanya Ayah Sagam.

“Nggak, Pak Harto saja tidak tahu ada mobil pick up yang sering memasuki desa. Itu pasti penebangan liar,” kata Sagam yakin.

Setelah mengatakan itu, Sagam pun bergegas pergi menuju rumah Pak Harto. Ayahnya bingung mau pergi kemana Sagam malam-malam begini. Ayah bertanya kepada istrinya. Bu Darmila hanya bisa mengangkat kedua bahunya menandakan dirinya juga tidak tahu Sagam akan pergi kemana.

Sesampainya di rumah Pak Harto. Tanpa basa-basi, Sagam langsung menjelaskan masalah yang sedang terjadi di desa. Mendengar hal itu, Pak Harto bergegas untuk mengumpulkan semua warga di balai desa.

••

“Assalamu’alaikum, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu sekalian. Tujuan saya mengumpulkan Bapak Ibu di sini adalah untuk menjelaskan persoalan mengenai mobil pick up yang cukup meresahkan warga desa akhir-akhir ini,” kata Pak Harto memulai pembicaraan.

“Setelah saya mencari informasi, tujuan mereka masuk ke desa kita adalah untuk menebang pohon di hutan desa ini. Orang-orang itu sama sekali tidak pernah datang ke rumah saya untuk meminta izin menebang pohon di hutan. Ini pasti penebangan ilegal,” sambungnya.

“Lalu, saya juga mendapatkan informasi bahwa tidak hanya batang pohon saja yang mereka inginkan melainkan juga lahannya. Seharusnya kita semua mencegah hal ini terjadi, batang pohon yang mereka curi itu pastinya sangat berguna bagi kita semua!” lanjut Pak Harto.

“Penebangan pohon secara ilegal itu bisa menyebabkan dampak negatif bagi desa kita.”

“Benar, Pak Kades!” seru salah seorang warga. “Penebangan hutan secara besar-besaran dan ilegal untuk mengambil kayu demi kepentingan sekelompok orang. Itu dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, dan tentunya sangat merugikan mahluk hidup di sekitarnya. Hal ini juga turut memicu risiko kemakmuran warga desa yang semakin rendah!” seru warga lainnya.

“setuju.” sahut warga lain kompak.

“Baiklah, Bapak Ibu. Karena besok hari libur, saya minta ibu-ibu dan bapak-bapak kembali berkumpul di tempat ini. Besok, kita akan melihat kondisi hutan di desa kita. Hari sudah larut, mari kita pulang untuk beristirahat dan kita lanjutkan besok. Terimakasih karena sudah datang ke sini,” ajak Pak Harto.

Satu per satu warga desa mulai meninggalkan balai desa sesuai instruksi dari Pak Kades.

Baca Juga  Pengelabuan

***

Keesokan harinya, Pak Kades dan beberapa warga lainnya telah berkumpul di balai desa. Pak Kades menginstruksikan apa yang harus dilakukan warga desa saat tiba di hutan nanti sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Arloji ditangannya menunjukkan pukul 08.00 pagi, Pak Kades beserta warga desa bersiap pergi ke hutan dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi akhir-akhir ini.

Untuk mencapai hutan, Pak Kades dan warga desa harus melewati jalan merah setapak. Sudah sekitar tiga puluh menit, mereka menyusuri jalan merah itu.

Di sepanjang jalan, Pak Kades selalu mengingatkan warganya untuk tidak bersikap anarkis. Dari kejauhan, terdengar suara bising yang berasal dari mesin senso dan deru mobil pengangkut kayu. Pak kades dan warga mempercepat langkah kakinya untuk sampai ke tempat itu.

Pak Kades melihat beberapa pekerja sedang menebang batang pohon dan beberapa diantaranya terlihat memasukkan batang pohon ke mobil pick up. Pak Kades tidak mengira keadaan di dalam hutan akan separah ini. Sebagian besar pohon di hutan seperti Jati, Damar, serta Rotan telah habis tak tersisa.

“Pagi, Pak Kades. Apa yang Anda dan warga desa lakukan di sini?” tanya seseorang yang berada di dalam mobil. Pria paruh baya berpakaian necis terlihat turun dari mobil. “Baskoro?!” sentak Pak Kades. Pak Kades dan warga desa terlihat terkejut melihat seseorang yang berdiri  di hadapan mereka. Dia adalah Baskoro, mantan kepala desa yang melarang warga desa memasuki wilayah hutan sekitar tiga tahun lalu. “Apakah ini semua perbuatan mu?” tanya Pak Kades.

“Ya, seperti yang kalian lihat. Aku akan membangun sebuah tempat hiburan malam di lahan ini,” jelas Baskoro. “Jangan gila, Baskoro!” seru Pak Kades. “Kenapa? bukankah itu bagus. Dengan adanya klub malam itu, desa kita akan sering di datangi oleh orang kota. Pada akhirnya, desa kita akan menjadi pusat kehidupan malam, Hahaha…” kata Baskoro.

“Lalu aku akan menikmati hasil dari impian ku selama ini. Aku akan menjadi kaya,” lanjutnya.

“Pikiran baik-baik, Baskoro! Lebih baik hutan ini kita jadikan tempat yang seharusnya. Tempat yang bermanfaat bagi seluruh warga desa sama seperti dulu. Tanah di hutan ini, sangatlah subur, tanaman apa saja pasti tumbuh subur bila ditanam di sini. Warga desa bisa kembali bertani, berladang, dan melakukan apa saja yang bisa menghasilkan. Dengan begitu, Desa kita akan kembali makmur seperti dulu. Bahkan, kita juga dapat membangun sebuah taman bermain yang indah bagi anak-anak di sini.” Jelas Pak Kades.

Baca Juga  Gelap Terang

“Diam… Sudahlah, kalian jangan campuri urusanku!” sergah Baskoro.

Pak Kades menjelaskan bahwa sebentar lagi polisi akan tiba di hutan ini. Ia berusaha menyadarkan Baskoro yang telah salah arah dan terhasut oleh sikap serakah.

“Sudahlah, Baskoro! Polisi akan segera tiba ke tempat ini. Kamu tidak akan lolos dari hukuman. Lebih baik kamu menyerah, dan lupakan khalayan belaka mu itu,“ bujuk Pak Kades.

Tak berselang lama, suara sirine polisi terdengar tidak jauh dari tempat itu. Perlahan lahan, rombongan mobil polisi mendekati mereka. Sagam turun dari mobil, terlihat pula beberapa orang dari Balai Konservasi dan Pelestarian Hutan, dan juga Polisi.

Rupanya, Pagi tadi, Sagam dan beberapa warga tidak ikut ke hutan. Ia meminta izin kepada pak kades untuk menyusul nanti bersama temannya dari Balai Konservasi dan Perlindungan Hutan serta polisi.

Polisi menangkap Pak Baskoro dan beberapa pekerja penebang pohon di hutan. Mereka harus menerima konsekuensi atas perbuatannya yang telah merusak hutan demi keuntungan pribadi.

***

Kini hutan desa itu telah menjadi tempat yang bermanfaat sebagaimana mestinya. Sebuah tempat yang kaya akan hasil alam bila kita memanfaatkan dengan bijak.

Kini warga desa kembali bisa bertani, berladang, atau menanam apa saja yang dapat berguna di masa yang akan datang. Kini anak-anak memiliki sebuah taman yang sangat indah sebagai tempat mereka bermain, tidak lagi menyeramkan seperti dulu.

Taman itu kerap kali dikunjungi oleh orang kota. Pak Kades dan warga desa menyebutnya dengan nama Taman Cempaka Indah, sesuai dengan nama desa mereka.

Ya, begitulah seharusnya. Gemah Ripah Loh Jinawi, kata yang tepat untuk menggambarkan tempat yang memiliki tanah subur yang membawa kemakmuran bagi orang di sekelilingnya. Tempat yang bermanfaat bukan hanya untuk segelintir orang melainkan semua orang yang berada di dalamnya.

Fatimah Azzahra, Siswi Kelas IX C SMP Negeri 2 Tukak Sadai