“Tak ada kami masyarakat dan nelayan menerima apa pun dalam dua bulan terakhir. Mereka setiap hari mulai kerja sejak pagi, kalau air sedang pasang, malam mereka juga kerja sebagian. Tidak ada (razia) sejauh ini, cuma ada kemarin TI selam yang dirazia,” ujarnya.

“Kalau yang beroperasi sekarang jenis rajuk kebanyakan, bahkan semua. Kalau kemarin pada saat ada orang PT Timah Tbk, bahasa mereka yang masih aktif membawahi aktivitas ini CV VBS, tapi saya juga tidak tahu masih aktif atau tidak mereka ini,” sebut Ike.

Kondisi ini, kata Ike, sudah tidak wajar. Sebab, perusahaan yang membawahi aktivitas pertambangan di perairan itu maksimal 20 ponton. Memang, ponton ratusan unit yang beroperasi saat ini di wilayah punya legalitas sepertinya, tapi koordinasi 20 persen tadi tak diterima sekali oleh mereka.

Baca Juga  Pelaku Pencabulan di Parittiga Terdeteksi, Begini Penjelasan Polisi

“Sedangkan kami tanya sama pekerja ponton ada mereka setor 20 persen. Kami minta aktivitas ini ditutup, lebih cepat lebih bagus, biar tidak semuanya merasakan lagi. Kalau aktivitas yang resmi kemarin, warga dusun dua dan tiga itu dapat persentase,” bebernya.

“Karena aktivitas tambang kemarin itu di dusun dua, sedangkan aktivitas pekerja di dusun tiga. Timah kemarin itu dibeli 120 ribu rupiah, sekarang turun 100 ribu, jual ke luar. Banyak bang hasilnya, itu ada videonya saya kirim,” tambah Ike.

Sementara, warga Belolaut lainnya atas nama Lim, menambahkan penghasilan pekerja ponton timah per hari capai 1 kampil, atau setengah dari itu ketika mesin ponton mengalami kerusakan. Ia bilang, sejauh ini tidak ada perangkat desa yang terlibat dalam kepanitiaan.

Baca Juga  Dukung Bersanding, Samsir Sebut PKS Terapkan Sistem Samina Wa Athona

“Pihak desa pun tidak mengetahui atas aktivitas ini, memang belum ada lapor ke desa, belum sempat, tapi bahasanya harus ke BPD dulu. Setahu saya mereka ini libur beroperasi setiap hari Jumat, Kamis mereka bongkar timah,” ungkap Lim.

“Di bibir pantai tidak ada penimbangan, jadi mereka timbang timah di laut itu, di atas ponton, misalnya dapat 10 kilo, potong 20 persen, artinya 8 kilo mereka (pekerja) dapat, 2 kilo diambil panitia yang dari Mentok. Panitia saja dari Mentok, bukan dari Belolaut,” jelasnya.