Sebagai desa percontohan kebersihan dan kesehatan dengan telah memiliki gedung Rumah Desa Sehat (RDS), Desa Tebing juga memiliki sebuah produk UKM unggulan. Bernama Zam dan Zid, produk olahan makanan dari singkong ini cukup menonjol di sana.

Pasalnya, produk yang kemudian diolah jadi keripik asli dan pedas ini berperan sebagai satu sektor pendongkrak ekonomi lokal dan memperkenalkan citra desa ke berbagai penjuru. Apalagi, Purmasari, selaku pemilik, telah punya tempat olahan sendiri dalam membuat keripik.

“Usaha ini saya mulai sejak tahun 2015 sampai sekarang, alhamdulillah masih bisa diterima di masyarakat Kelapa dan sekitarnya. Harapan saya ke depan keripik kami, semakin dikenal luas dan diminati sampai luar provinsi dan bahkan luar Indonesia,” ujar Purmasari.

Purmasari

5. Penduduk Asli Suku Empeng

Dengan beragam potensi, desa ini juga ternyata memiliki penduduk asli lokal bernama Suku Empeng. Suku ini masih terus terjaga kelestariannya, kemudian diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi bahkan hingga di abad ke-21 saat ini, tahun 2023.

Baca Juga  Ruah dan Khataman, Tradisi Tahunan yang Kembali Digelar Masyarakat Limbung

Suku yang tersebar pula, di Kelurahan Kelapa ini, menciptakan keberagaman kultural bagi daerah ini. Tokoh Adat Desa Tebing, Jalaludin membeberkan, bahwa dulunya, pemukiman penduduk asli Suku Empeng bukan bermukim di kawasan yang berjejer pada saat ini.

“Asal-usulnya waktu masih berbentuk dusun, bukan di lokasi saat ini, di sana (arah kuburan desa). Jadi di situ lokasi pertama nenek-kakek moyang kami dengan dihuni oleh penduduk ada tujuh rumah. Seiring berjalan waktu, dusun ini diberikan nama Tebing,” ungkapnya.

“Mengapa Tebing? Dulu di bagian desa ini ada Sungai Mangkong, dekat sawah saat ini berdampingan dengan Sungai Gendang. Kemudian terjadi pertemuan alur air dan menyebabkan air seperti turun sehingga membentuk bukit dan menciptakan dataran tebing,” katanya.

Tokoh adat Desa Tebing, Jalaludin

6. Adat, Istiadat dan Kebudayaan

Sedekah secara skala besar-besaran di desa ini setiap tahunnya merupakan adat-istiadat yang telah diwariskan oleh pendahulu. Diterangkan Jalaludin, selalu Ketua Adat Desa Tebing, dahulu kala, ada orang tua bernama Akek Kumbas, juga dukun besar di kampung.

Baca Juga  Pemkab Bangka Barat Mulai Land Clearing Kota Tua Mentok

“Pada saat permukiman awal masih di dekat pemakaman desa sekarang, kala itu, waktu masih dihuni tujuh rumah ada orang tua kami bernama Akek Kumbas, dukun besar kala itu. Beliau yang mengembangkan sedekah kampung atau ruahan,” kata Jalaludin.

“Apa yang dilaksanakan rutin sekarang, tahunan, itu berawal dari Akek Kumbas. Di mana setiap bulan ruahan, seluruh masyarakat yang bermukim di Desa Tebing menggelar sedekah dengan skala besar-besaran. Dulu kita sebut sebagai sedekah kampung,” sebutnya.

Selain itu, 2 adat ikonik di desa ini yaitu Sedulang Seumah dan Sedekah Ruahan tadi, menggambarkan kebersamaan dan kepedulian sosial di Desa Tebing. Begitu pula Tarian Kembang Cabik, salah satu warisan budaya yang sangat memukau dengan keindahannya.

7. Naik Tingkat ke Desa Mandiri

Setelah meningkatkan berbagai aspek yang ada, Desa Tebing ditetapkan sebagai Desa Mandiri pada tahun 2022 yang sebelumnya berstatus Desa Maju. Hal ini disampaikan langsung oleh salah seorang Pendamping Lokal Desa, berasal dari Kelapa, Gunawan Hera.

Baca Juga  KIP 17 Milik PT Timah Terbakar di Perairan Parittiga Bangka Barat

Diungkapkan Gunawan, kategori Desa Mandiri diraih Tebing berdasarkan hasil pencapaian Indeks Desa Membangun (IDM) tahun 2022 dan 2023. Atas capaian ini, Desa Tebing mendapatkan tambahan anggaran dari Kemendes PDTT dan berguna untuk membangun desa dan pemberdayaan masyarakat.

Pendamping Desa Tebing, Gunawan Hera

“Jadi, predikat Desa Mandiri ini didapat berdasarkan IDM tahun 2022 dan 2023. Capaian ini bukan hanya sekadar prestasi saja, namun berdampak pada penambahan anggaran dari Kemendes PDTT dan itu sangat membantu juga di dalam pembangunan di desa,” ujarnya.

Sementara, Kepala Desa Tebing Saimi menyebutkan, potensi luar biasa yang dimiliki, kini akan terus dioptimalkan oleh pemerintah desa. Di mana, pada sektor perkebunan, pertanian dan kebudayaan akan terus dikembangkan khususnya di dalam pengembangan agrowisata.

“Alhamdulillah, kami dapat dukungan di dalam pengembangan sawah Tebing sebagai kawasan agrowisata dari Pemkab Babar. Besar harapan kami, pemerintah provinsi hingga pusat juga mendukung kami dalam meningkatkan pembangunan dan ekonomi masyarakat,” jelasnya. (**)