Ngambur Beras Kunyet
Ichan Mokoginta membawa berasnya di dalam plastik kresek lalu menebarkan berasnya di titik titik tertentu saja. Namun ada pula yang melakukan dengan cara yang agak berbeda.
Puluhan tahun lalu di Sungailiat penulis juga mendapatkan informasi adanya kegiatan ngambur beras kunyet ini. Seorang pejabat di kabupaten Bangka yang nampaknya berselisih dengan pimpinannya sampai harus hijrah penugasan ke Palembang.
Belakangan ia balik lagi ke Pulau Bangka dan menjadi pemimpin yang dianggap sukses meraih simpati masyarakat dan berhasil menerapkan konsep-konsep pembangunan yang baik. Dua periode.
Suatu pagi terlihat ada mobil angkot kuning yang berjalan perlahan menyusuri jalan di seputar kompleks pemda di Sungailiat.
Dari pintu belakang angkot terlihat beras kuning yang berceceran di aspal. Menurut info yang didapat. Angkot tersebut disewa seorang pejabat di kabupaten Bangka tadi.
Kejadian ini berlangsung setelah sang atasan pejabat tadi dinyatakan berakhir masa jabatannya dan tak lagi memimpin.
Rupanya angkot kuning yang melakukan ritual ngambur beras kunyet tersebut merupakan bentuk tanda suka cita dan syukur si pejabat terhadap selesainya masa jabatan atasannya.
Karena itu ada pesan yang dialamatkan kepada kaum pemimpin dan para pejabat publik untuk berhati-hati dalam tindakan dan perkataan.
Tidak selalu apa yang kita ucapkan dapat dipahami masyarakat seperti yang kita inginkan. Persepsi masyarakat juga tak selamanya bisa dibentuk berdasarkan keinginan para pejabat.
Apa lagi pasti ada saja sekelompok orang yang memang tak setuju dengan pemimpinnya. Sehingga apa pun yang dilakukan dan diucapkan sang pemimpin itu dipastikan akan disalahkan oleh kelompok ini.
Namun yang juga perlu diingat bahwa menjadi pejabat publik itu misinya antara lain adalah menyelamatkan kepentingan orang banyak. Membantu yang tak berpunya dan menolong yang tertindas.
Walaupun mungkin ada pula sekelompok orang yang tak setuju karena kepentingannya terganggu.
Ada imbauan orang Bangka yang sekaligus bisa jadi pegangan para pejabat publik ketika bertugas. “Dak sape negah ikak nek jadi raje. Tapi jangan ngeraje”.
Kalimat ini menggambarkan bahwa bagi orang Bangka, sepanjang pemimpin menunjukan sifat dan sikap yang mengayomi maka ia akan selalu didukung. Minimal tak akan diganggu.
Namun jangan coba-coba bila ada pemimpin yang terkesan semena-mena dan zalim. Baik di level daerah maupun di jajaran perangkat daerah, perusahaan. Atau di barisan lain dalam organisasi.
Dalam bahasa anak muda sekarang pemimpin model begini digelari “Pemimpin yang toxic”. Ingin enak sendiri dengan menekan dan memeras bawahan dan masyarakat.
Mirip-mirip dengan fenomena yang pernah populer di masa lalu. Menerapkan Ilmu katak. Ke atas menyembah ke bawah menginjak dan menendang. Omongan bagus kelakuan minta ampun. Pemimpin model begini tentu akan jadi musuh bersama terutama yang di bawahnya.
Perlawanan yang paling mungkin dilakukan oleh bawahan bila tak mungkin secara teraang-terangan, adalah menyebarkan gosip dan kasak kusuk.
Atau sejumlah gelar yang dilekatkan pada sang pemimpin yang biasanya berbentuk plesetan dan sindiran. Maka berhati-hatilah bila kondisi ini sedang anda alami.
Ngomong-ngomong memangnya masih ada pemimpin model begini? Entahlah. Tapi jika memang masih ada, Itu artinya siap-siap ngambur beras kunyet agik…Emang boleh?…Salam takzim
Yan Megawandi, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan & Pemerhati Budaya Bangka Belitung

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.