Ngambur Beras Kunyet
Oleh: Yan Megawandi
Awal bulan lalu terjadi aksi budaya yang cukup menarik di Bangka Belitung.
Beberapa orang melakukan ritual yang sudah lama tak terdengar, kecuali di acara adat perkawinan, Ngambur beras kunyet.
Hal ini dilakukan di dua titik strategis yaitu di Kantor Gubernur dan di Bandara Depati Amir serta di jalan antara dua titik tersebut.
Mengapa ritual ini dilakukan? “Saya lakukan ini tidak mengatasnamakan siapa-siapa, melainkan lahir dari pikiran dan kemauan sendiri. Apa lagi untuk tujuan politis. Maaf saya tidak berkepentingan untuk itu,” ujar Amang Ikak, nama pena yang lazim digunakannya ketika menulis di media.
Saat ini pemerhati budaya yang nama aslinya Ichsan Mokoginta Dasin itu ikut mengelola sebuah media online.
“Secara simbolik saya ingin mengantarkan jalan pulang saudara saya bapak Suganda Pasaribu agar tidak tersesat menuju jalan pulang. Ritual ini merupakan bagian dari bayar nazar saya dan terima kasih saya kepada Mendagri yang sudah mengajak dan menjemput pulang bapak Suganda kembali ke Jakarta, “ jelas Ichsan seperti dimuat di trasberita.com.
Untuk mengetahui apa artinya ritual ngambur beras kunyet tersebut, saya menanyakannya langsung kepada salah seorang budayawan sekaligus ahli sejarah Bangka Belitung, Ahmad Elvian melalui aplikasi whats apps.
Menurut Elvian yang juga menjadi Ketua Msyarakat sejarah Indonesia Babel dan sekretaris Lembaga Adat Melayu Bangka Belitung ini istilah Ngambur beras kunyet adalah tradisi di Bangka Belitung yang menjadi simbol rasa syukur dan rasa sukacita yang mendalam.
Misalnya pada saat acara mengarak calon pengantin laki laki dalam adat pernikahan/ perkawinan sebelum calon pengantin laki laki masuk ke rumah calon mempelai perempuan dilakukan tradisi ngambur beras kunyet, kemudian pada saat acara munggah atau naik pelaminan biasanya juga diambur dengan beras kunyet.
Penulis puluhan buku tentang sejarah dan kebudayaan Bangka Belitung ini menjelaskan bahwa, ngambur beras kunyet juga dilakukan untuk membayar niat atau nazar terhadap cita cita atau keinginan yang berhasil atau terkabul.
Oleh sebab itu ujarnya, ngambur beras kunyet sering dimaknai sebagai rasa sukacita yang mendalam dari sejuta makna.
Suka cita mendalam. Adalah rasa yang mungkin ingin diperlihatkan oleh Amang Ikak dan kawan-kawan ketika melakukan ritual tersebut.
Kegembiraan bahkan membayar nazar yang dipertontonkan secara filosofi adalah wujud dari upaya kebudayaan. Adanya gangguan dalam sistem adat kita ditandai oleh ketidakstabilan atau ketidakseimbangan kondisi yang terjadi.
Ketidakseimbangan tersebut bisa digambarkan dari adanya ketidakpuasan akan situasi yang sedang berlangsung. Guncangan situasi boleh jadi berlangsung karena mencuatnya berita-berita yang selama ini memperlihatkan adanya perbedaan pandangan yang membawa dua gerbong pemikiran.
Gerbong pertama yang terkesan diusung oleh kelompok yang menamakan dirinya sebagai Gerakan Bangka Belitung Peduli yang dimotori oleh beberapa orang tokoh senior dan pejuang pembentukan provinsi.
Mereka pula terdiri dari para mantan pejabat dan birokrat serta tokoh LMS daerah. Sedangkan gerbong kedua kebanyakan adalah merupakan jajaran birokrasi yang justru berpendapat sebaliknya atau setidaknya tidak berkomentar apa-apa.
Tak ada masalah berarti dalam pengelolaan pemerintahan daerah. Semua berjalan baik-baik saja. Gaji dan tunjangan tetap dibayarkan seperti biasa.
Kegiatan ekonomi tetap berjalan sebagai mana layaknya. Anak sekolah tetap bisa melakukan pembelajaran rutin. Termasuk ibu-ibu tetap bisa ke pasar berbelanja segala macam kebutuhan dapur.
Angkot Kuning dan Beras Kunyet
Kembali ke topik ngambur beras kunyet. Bagaimana cara ngambur beras kunyet? Ternyata tak terlalu baku jika merujuk dari kejadian yang telah ada.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.