Dalam Dekapan Ayah
Bola mata hitam pekat ayah menatapku dengan lekat. Namun tak kutemukan amarah dalam pandanganya.
Aku menarik napas panjang, “Kemarin lusa kawan-kawan pergi ke pantai untuk liburan. Kawan-kawan bawa makanan masakan ibunya masing-masing. Nisa sorang yang dak bawa masakan ibu. Trus ade kawan Nisa bilang, ‘Lah. Kau tu cuma bise beli. Mane nyamen makan beli terus.’ Lepas tu Nisa diam. Nisa dak berani becakap. Nisa kalah dengan kawan yang ade ibu.”
Ayah merangkulku kemudian membuka halaman dari buku selanjutnya.
“Nisa tahu, ada banyak harapan dan doa ibu untuk Nisa. Dayang ayah pasti kuat. Biarkan orang nek becakap ape, yang penting Nisa fokus dengan tujuan diri. Ayah yang lebih kenal Nisa dari siape pun. Nangis sesekali dak ape, lepas tu senyum lagi. Katakan pada dunia bahwasanya dak de yang mampu goyahkan Nisa. Nisa hanya perlu ingat, ayah selalu ade untuk Nisa.”
Mataku basah, aku tak kuasa menahan tangis. Kubiarkan air mataku luruh. Sudah lama aku tidak menangis. Ayah memelukku kemudian menepuk pundakku dengan lembut.
“Nangislah. Jangan ditahan. Nanti kepalanya jadi besar,” kata ayah berkelakar.
Aku menuruti, makin kencang suara tangisku. Kudengar para buruh sibuk bertanya tentang apa yang terjadi. Namun ayah menghalau mereka dengan mengatakan bahwa aku hanya sedang ingin menangis.
Sesudah lelah aku menangis, aku menghapus jejak air mataku dengan ujung lengan baju. Rasanya lega. Seakan bom yang selama ini tertahan meledak jua.
“Nanti malam mau ayah masakkan nasi goreng?”
Aku mengangguk.
“Anak pandai. Besok pagi balik ke kota ya. Nisa harus sekolah. Nanti ayah hubungi kawan ayah. Biar cepat, Nisa dak usah naik bus. Tadi wali kelas Nisa menghubungi ayah, katanya sudah dua hari Nisa membolos. Ayah bilang Nisa sedang rindu ayahnya,” kata ayah kemudian tertawa.
Aku selalu senang ketika pulang. Mendengar kelakar ayah. Mendengar tawa ayah. Membuat hatiku terasa penuh.
“Wali kelas Nisa tadi bilang kalau Nisa jadi salah satu peserta Festival Serumpun Sebalai mewakili sekolah. Betul, nak?”
Aku mengangguk.
“Nisa menari atau menyanyi?”
“Nari. Tari Kedidi.”
“Lihat! Dayang ayah hebat betul. Nisa pernah bilang, Nisa ingin kuliah di Jawa tahun depan. Ayah yakin Nisa mampu. Tugas ayah adalah mencari rezeki yang halal dan mendoakan Nisa.”
Aku kembali memeluk ayah dengan erat. Tak ada yang lebih membahagiakan selain pulang kampung. Tak ada yang lebih melegakan selain berada di dalam pelukan ayah.
Ayah adalah perpanjangan kasih ibu dan ibu adalah perpanjangan kasih Sang Khalik.
Pangkalpinang, 30 November 2020

Tentang Penulis
Shasa Apriva Rustam, lahir di Pangkalpinang di bulan April 1999. Seorang penikmat sastra yang aktif berkegiatan di komunitas Prosatujuh dan Kebun Kata.
Tulisannya telah dimuat di berbagai media online dan cetak, juga pernah menjadi penulis terpilih saat perayaan Hari Kesehatan Mental 2020. Menjadi salah satu penulis dalam antologi cerpen Riuh Rindang. Meraih juara 1 dalam lomba penulisan skenario film bertema lokalitas yang diadakan oleh Dinas Pariwisata kota Pangkalpinang.
Berdarah Tionghoa-Melayu yang juga kerap memasukkan unsur lokalitas di tiap tulisannya. Hingga saat ini ia tertarik dengan dinamika bermasyarakat di Bangka Belitung.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.