Tangisan Cakrawala
“Kau tak suka hujan?” tanya Arkan heran seolah Lita adalah makhluk aneh.
“Ya, menurutku hujan itu berisik apalagi jika sudah mengajak petir untuk berkolaborasi! Jalanan juga menjadi becek, apalagi daerah daerah yang sering banjir, jemuran ibuku tidak kering berujung apek, teras rumah juga harus dipel sesudah hujan lebat karena basah. Aku juga pernah lihat rumah temanku yang atapnya bocor, huh kasian sekali ketika hujan dia malah sibuk menampung air hujan dengan ember dan menyelamatkan barang barangnya agar tidak basah. Jalanan yang licin sehabis hujan juga rawan kecelakaan!” jelasnya panjang lebar di balas gelengan heran oleh Arkan.
“Ck, asal kau tahu hujan itu anugerah Tuhan. Dia datang untuk menghilangkan dahaga bumi, menemani hati di kala lara, dan kau pikir siapa lagi yang mau menjatuhkan diri dari ketinggian untuk menyelamatkan kehidupan orang lain? Seperti hujan yang jatuh membawa kemakmuran bagi semesta. Bahkan di bawah derasnya hujan kau bisa berlari sambil menangis bahkan meraung sekalipun tanpa orang tahu, karena hujan mengerti kita, hujan tahu kita butuh waktu sendiri untuk melampiaskan rasa lara akibat semesta yang berat sebelah,” ucap Arkan tak kalah panjang.
Lita hanya memasang wajah tercengang, merasa menyesal karena tidak merekam kata kata mutiara yang barusan ia dengar.
“Tapi aku tak pernah mandi hujan, persetan dengan itu terkena angin malam saja aku sakit, bagaimana rasanya mandi hujan? apakah semenyenangkan itu?” ucap Lita.
Arkan hanya mengangguk.
“Lalu apa yang kau lakukan ketika hujan?” tanyanya.
“Aku hanya akan tidur sambil mendengarkan musik karena jika aku belajarpun tak akan fokus karena suara air hujan yang berbenturan dengan atap rumah, atau hanya sekadar melihat di balik jendela anak anak yang berlarian ke sana kemari sambil tertawa di bawah guyuran air hujan,” jawab Lita.
“Setelah keluar dari sini dan kondisimu membaik akan kuajak kau menikmati tangisan cakrawala,” ujar Arkan sambil terkekeh.
- °•°•°•
Tahun ini musim penghujan terjadi pada bulan Desember sampai januari.
Sekarang hujan namun sepi.
“Arkan itu ada temanmu nyariin, mama suruh duduk di ruang tamu tadi,” ucap ibunya di balik pintu.
Arkan yang sedang duduk di kursi belajarnya lansung berdiri menuju ruang tamu, entah siapakah gerangan teman yang datang menemuinya di kala hujan lebat— “Lita?!” tanyanya memastikan orang yang duduk di kursi tamu yang sedang memamerkan gigi seputih susunya, “ngapain kesini?” tanyanya lagi.
“Mau mengajakmu menikmati tangisan cakrawala,” jawab Lita sambil terkekeh.
“Ayo!” ajaknya sambil berlari ke teras menarik pergelangan tangan Arkan.
“Eh tunggu dulu?!” sarkasnya menyentak tangan Lita, membuat sang empu heran.
Arkan kembali membuka pintu kemudian berteriak—”Ma, Arkan mandi hujan yaaa!! ” tanpa menuggu jawaban mamanya Arkan berlalu begitu saja berbalik menarik tangan Lita yang masih tercengang heran.
“Emang boleh mandi hujan?” tanya Arkan dengan berteriak ketika mereka sudah berada di bawah derasnya guyuran hujan.
“Kalau ga boleh aku ga kesini” jawab Lita sambil berteriak juga.
Mereka berlarian kesana kemari bahkan Lita yang sedari tadi asik berjingkrak jingkrak menampung air hujan dengan kedua tangannya, hingga tiba di taman komplek perumahan.
“AAAAAAHAHA”
Teriakan itu mengagetkan Arkan yang sedang terbaring di atas rumput,
“Kenapa?” tanyanya terduduk.
“Kamu nanya?” jawaban itu membuat Arkan mendengus kesal. “Aku hanya ingin mempraktikkan, kau pernah bilang; bahkan di bawah derasnya hujan kau bisa berlari sambil menangis bahkan meraung sekalipun tanpa orang tahu tapi saat aku meraung tadi mengapa kau bisa tahu?” tambahnya, sambil ikut berbaring di atas rumput di samping Arkan.
“Itu kalau orang orang berada jauh darimu!” jawabnya sarkas sambil memejamkan matanya.
“Sudah mulai terserang pluviophile eh?” tanya Arkan dibalas gumaman oleh Lita.
“Kau tahu Lita? hidup itu seperti hujan, banyak yang suka namun tak sedikit pula yang benci. Penilaianmu tergantung sudut pandangmu.”
“Tapi hidupku seperti cakrawala di akhir tahun,” kata Lita menimbulkan seperempat siku di dahi Arkan.
“Sama sama suka menangis, bedanya cakrawala menangis karena awan yang tak bisa menahan beban, sedangkan aku menangis karena hati yang tak bisa menahan sakit,” kekehnya.
“Kecil kecil sudah tau sakit hati,” komentar Arkan ikut terkekeh.
“Dih, Aku memang sakit hati, bahasa kerennya hepatitis,” jelas Lita memutar bola matanya malas. Mendengar itu, seketika tawa Arkan terhenti.
Hening. Hanya tersisa rintik rintik hujan yang mulai mereda.
“Asal kau tahu, aku pernah tak suka hujan,” kata Arkan memutuskan keheningan.
“Kenapa?”
“Karena di kala itu, aku Arkana Cakrawala yang terserang lara akibat engkau, Lalita Arunika yang enggan berjumpa.”
“Namun sekarang, di kala hujanpun Cakrawala dan Arunika dapat saling menyapa,” Lanjut Arkan.
“Maksudmu hujan panas?”
“Wanita dengan segala ketidakpekaanya.”
The End
Hikmah tul Aulia, Siswi SMAN 1 Toboali, Bangka Selatan
