Meski begitu, dirinya akan kumpulkan tim satpam bagaimana kronologi kejadian yang sebenarnya terjadi, entah ada miskomunikasi atau lainnya. Juga, ia bilang, DKUP Babar selalu membina tim satpam meningkatkan kinerja serta mengurangi potensi adanya maling.

“Dari jauh hari juga saya sudah imbau agar agang dan satpam koordinasi dan melakukan kontrol secara berkala serta melaporkan barang dagangan yang penting. Sehingga tim satpam tahu di mana saja lapak yang perlu dilakukan peningkatan pengamanan, itu bahkan saya tuangkan dalam edaran,” jelasnya.

Di samping itu, pada lapak yang baru di sana sudah dipasang CCTV agar meningkatkan keamanan. Di lapak pasar sayur pun sama, juga dipasang CCTV swadaya para pedagang untuk meningkatkan keamanan yang ada di pasar karena sempat ada kejadian.

Baca Juga  Sadis! Seorang Ayah di Bangka Barat Tega Aniaya dan Bakar Anak Kandung

“Sempat ada maling ketangkap satpam namun kita selesaikan mediasi karena situasi juga sedang sulit. Maka dari itu terus saya tekankan agar peningkatan pengamanan di lingkungan pasar terus dilakukan,” bebernya.

Ihwal biaya air yang sempat dibayar oleh Ibu Isabella sebesar Rp300 ribu per bulan, Aidi menyampaikan bahwa itu adalah kesepakatan antara pedagang dan pengelola pasar. Yang mana saat itu, pemerintah daerah memang belum melakukan penarikan resmi.

“Saat itu hanya terjadi musyawarah dan mufakat pedagang dan pengelola. Kalau sekarang, merupakan tanggung jawab kami, sudah disampaikan Pak Bupati dan Wabup semua harus kami bantu baik itu air, listrik, kebersihan dan keamanan,” terangnya.

Lebih lanjut, rehabilitasi bangunan arah warung kopi yang dijalankan Ibu Nur, itu kata Aidi sebagai bentuk untuk membuat kawasan tertata. Sebab selama ini, cukup semrawut, mobilitas padat dan tidak beraturan. Sementara saat ini lebih nyaman, bersih, rapih dan tidak terkesan kumuh.

Baca Juga  Tekan Angka Inflasi, Ini Program dan Kebijakan Pemkab Bangka Barat

“Kalau dagang di luar lapak emang kita tidak menyarankan, ini merepotkan kita dan mau tidak mau akan kita tertibkan yang nantinya berjualan di luar lapak kalau memicu kecemburuan sosial dari Ibu Isabella dan pedagang di luar itu. Itu yang ditetapkan oleh pak bupati juga,” katanya.

“Akan dipersiapkan dan tinggal tunggu waktu saja nanti kita bisa bekerjasama dengan Satpol PP dan petugas lain, cuma kita menunggu saatnya. Soalnya menyangkut perut orang banyak tetapi apabila menimbulkan kecemburuan sosial maka mau tidak mau akan kita tertibkan,” jelasnya.

Sekali lagi, atas nama Pemda Babar, ia menegaskan bahwa tidak pernah sama sekali dan tidak punya niat untuk mendiskriminasi Ibu Isabella. Sebab, ia tahu dan kenal dekat serta sering bersenda gurau dengan Isabella dan setiap ada kegiatan sering dilibatkan.

Baca Juga  Riza Fahriansyah Temukan Ketidaksesuaian Implementasi SPMB Jenjang SD di Bangka

“Kami sama sekali tak pernah anggap Ibu Isabella berseberangan dengan kami. Malah Ibu Isabella adalah aset kami yang berdagang di pasar karena memang unsur 5 pilar itu harus seiring dan kompak untuk membuat pasar jadi pasar yang aman nyaman rapi dan bersih serta enak untuk dikunjungi,” terangnya. (**)