Waktu terus berjalan dengan cepat, semakin hari, pengetahuan Haikal semakin luas. Dia mulai mengajar anak-anak di desanya, dekat pohon tua sejuk rumahnya, tentang apa yang telah ia pelajari dari buku tua, bekas milik Pak Sodik yang bermanfaat baginya itu.

Berita tentang semangat belajar Haikal menyebar ke desa tetangga, hingga luar kota dan saking takjubnya dengan semangat belajar Haikal ada seorang guru dari kota rela datang untuk melihatnya.

Guru tersebut memberikan tawaran kepada Haikal untuk belajar di luar kota dengan biaya penuh.

“Apakah kamu yang bernama Haikal?” tanya guru dari kota itu.

“Iya, Pak, saya Haikal, Bapak ini siapa, ya? Mengapa mencari saya?” tanya Haikal kepada guru itu dengan rasa penasaran.

“Perkenalkan, nama Bapak Nur Rohman, salah satu guru dari luar kota, Bapak datang ke sini untuk memberimu tawaran agar kamu belajar di luar kota untuk menempuh pendidikan tinggi tanpa mengeluarkan biaya apa pun karena kamu adalah salah satu anak yang luar biasa,” ucap Bapak Guru luar kota itu memberikan tawaran penuh kepada Haikal.

Baca Juga  Pantun Minggu: Nonton Pawai

Haikal hanya bisa tersenyum kaget tak percaya bahwa impiannya selama ini menjadi kenyataan, lalu dia menjawab.

“Iya, Pak, saya mau banget karena ini adalah impian saya sejak lama,” jawab Haikal penuh bahagia sambil sujud syukur kepada Sang Kuasa.

“Oke, kalau begitu kita berangkat hari ini juga, silakan kemasi barang-barangmu, ya,” ucap Pak Guru Nur Rohman.

“Baiklah, Pak,” jawab Haikal singkat.

Haikal dengan cepat nya berlari masuk ke rumah mengemasi pakainnya penuh bahagia sambil berpamitan kepada kedua orangtuanya.

“Ibu, Ayah, impian anakmu sekarang sudah tercapai untuk belajar menempuh pendidikan kota tanpa biaya, ini semua berkat doa dari kalian. Aku juga mohon doanya, ya, Bu, Yah, agar kelak bisa menjadi orang yang benar-benar sukses,” ucap Haikal meminta izin sambil menciumi kedua tangan orang tuanya.

Baca Juga  Aku dan Luka

“Iya, Nak, doa kami selalu menyertaimu, semoga kamu memang benar-benar menjadi orang yang sukses yang bisa membanggakan kami semuanya,” jawab kedua orang tuanya memberikan izin, walaupun sedikit berat.

“Terima kasih, Ayah, Ibu, aku janji aku akan bisa membahagiakan kalian, juga mewujudkan semua keinginan kalian yang belum tercapai,” ucap Haikal kepada kedua orangtuanya.

“Ya, sudah, sekarang cepat pergilah, gurumu sudah menunggu lama di luar sana,” ucap sang Ayah sambil memeluk putranya itu.

“Iya, Ayah, Ibu, asalamualaikum,” jawab Haikal kepada kedua orangtua tercintanya sambil memeluknya dengan erat.

Haikal pun langsung melangkahkan kakinya ke luar untuk pergi bersama sang Guru ke kota, mengejar pendidikan lebih tinggi. Setibanya di kota masa depan, dia bertemu dengan berbagai teman sebaya yang bersemangat belajar seperti dirinya.

Baca Juga  Sandikala Gulana

Masa depannya di kota itu tampak cerah. Haikal bersyukur pada Allah lewat pria tua yang memberinya kesempatan untuk belajar dari buku-buku tua. Lambat laun, Haikal pun berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya dengan prestasi gemilang, super membanggakan.

Dia kembali ke desanya sebagai seorang guru untuk membantu anak-anak desanya mendapatkan akses pendidikan yang layak seperti dirinya, juga membantu semua warga desanya.

Simpang Rimba 24 febuari 2024