“Mau ke mana?” Suara serak-parau itu menghentikanku yang sibuk mengecek kondisi kapal. Aku mencari sumber suara itu. Tampak pria paruh baya dengan rokok masih menyala. Aku melihatnya, laki-laki setengah abad menatapku iba, entah karena kasihan atau yang lainnya.

“Melaut.”

“Sekarang cuaca sedang buruk, tak baik jika memaksakan. Musim angin barat sedang tak bagus untuk melaut Don…” laki-laki itu mendekat ke kapalku, dia sangat perhatian kepadaku yang masih teramat naif dengan kehidupan. “… Apalagi kau melaut sepagi ini.”

“Indung dan Dara perlu makan. Perlu beras, minyak dan SPP sekolah. Jika aku tak melaut, bagaimana dengan keluargaku nanti…,” jawabku, perlahan melepas tali tambang yang mengikat pada sisi tiang dermaga.

“… Aku akan baik-baik saja. Angin musim barat cuma angin biasa…,” mencoba memahami rasa khawatirnya. Kenapa semua orang mengkhawatirkan diriku? Aku akan baik-baik saja, bukankah nelayan dan laut sudah seperti saudara? Jangan menakuti. Perasaan itu akan muncul karena takut kehilangan. Faktanya, aku juga takut kematian.

Abok–bapakku dengan gaya khasnya, selalu memberi wejangan-wejangan ketika hendak melaut, menjaga tutur kata di tengah samudra dan jangan meremehkan angin musim barat yang sedang terjadi beberapa hari ini yang baru saja aku remehkan.

Baca Juga  Pesek

Aku hanya perlu melaut-menjemput rezeki dan kembali ke daratan seperti biasanya, dengan harapan hasil yang banyak. Itu saja. Aku menyalakan mesin perahuku, memantapkan pikiranku meninggalkan daratan.

*

Alhamdulillah. Hasil tangkapanku hari sudah cukup memenuhi kebutuhan dan keperluan nanti. Aku tak percaya, hari ini aku seperti mendapatkan jackpot besar. Ikan-ikan segar dan besar naik ke atas kapal kecilku ini. Dengan sekuat tenaga, mengangkat jala yang sedari tadi aku tebar di lautan biru yang luas ini.

“Indung, Dara. Abang pulang”, ucapku pelan sambil menyeka keringat yang terasa membasahi pipiku.

Mesin perahu memecah lautan, deru mesin yang kencang membelah laut menjadi dua bagian, burung-burung camar beterbangan. Mataku memandang jauh daratan.

Pulau Ketawai belum terlihat–tampak gumpalan awan hitam sudah menyambutku sebelum sampai ke daratan-kilatan petir membabi-buta melesak ke permukaan air. Aku langsung bersiap-siap dengan semua hal buruk yang akan terjadi.

Apapun itu. Aku hanya ingin pulang secepat mungkin, membawa hasil melaut dan makan malam bersama Dara–anakku dan istriku tercinta, walaupun harus melawan badai sekalipun.

Bres! Hujan disertai angin kencang membombardir kapalku ke sana-kesini, sejenak kapalku mulai oleng seiring hantaman ombak yang keras.

Baca Juga  Puisi-puisi Dian Chandra

Ombak terus mengguncang bersamaan angin musim barat yang berhembus dari samudra. Cukup sulit bagiku mempertahankan diri di tengah cuaca buruk seperti ini.

Aku segera mengikat box ikan tangkapan di sisi kapal-agar tak terlempar ke air–sekuat tenaga menahan benturan dan hantaman berulang kali. Hal buruk terus saja terjadi, mesin kapal tiba-tiba mati di tengah badai yang sedang mengamuk.

Ya Allah, aku hanya ingin pulang. Anak dan istriku menungguku di rumah..,” ucapku getir menahan dingin yang mulai menjalar ke seluruh tubuhku.

Badanku basah terkena air laut yang terus menghantam sisi kanan-kiri kapal. Aku tak ingin menyerah dan berusaha sekuat tenaga bertahan dari amukan samudra yang ganas.

Duar! Petir menghantam mesin yang sudah mati. Sambaran itu membuat kapal pecah menjadi dua bagian. Aku terlempar ke dalam air yang terus menggulung diriku. Tidak! Aku ingin pulang.

Aku tidak ingin mati sebelum aku bertemu dengan Dara, anakku dan Indung, Istriku. Aku terus berupaya mencapai dasar permukaan air mencari apa saja yang bisa menyelamatkanku dari kematian. Di tengah keputusasaan, mataku mulai perih dan gelap, kerongkonganku sudah penuh sesak dengan air laut yang memaksa masuk ke dalam tubuhku.

Baca Juga  Kejamnya Dunia

*

Aroma harum-manis Lempah Ikan manyong di atas meja makan menguap ke penjuru rumah berdinding papan kayu nibung, Aku duduk manis menatap anakku, Dara sedang cerewet memarahiku yang jarang ikut makan malam bersamanya.

Dara sangat mirip diriku saat kecil yang merengek ketika ditinggal Abok melaut. Sial. Air mataku merembes di pipi.

Abok menangis?” Dara dengan polos mengatakannya. Wajah polos nan lugu menatapku kasihan. Aku tertangkap basah menangis di hadapannya, dan Indung memegang tanganku erat–matanya berbinar kesedihan.

Di napas terakhirku, aku tidak lagi takut dengan kematian–yang sebelumnya selalu takut akan kematian diriku sendiri. Membayangkan makan bersama anak dan istriku membuatku tenang menghadapi takdir yang telah menjemputku.

**

SUDI SETIAWAN, adalah penulis kelahiran Bangka, Fresh Graduate S1 Manajemen di Universitas Bangka Belitung. Karya cerita pendeknya yang berjudul Marthapram (2022) telah dibukukan dalam Antologi Cerita Pendek Pulpen Saya Jilid II, Pohon Permintaan (2023) di terbit di Harian Kompas, dan pemenang sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ketupat Raksasa di Bukit Nenek (2023)