Kisah Agus Tarmidzi, Duta Besar asal Mentok dengan Semangat Kerja yang Menginspirasi
Mereka sangat antusias membahas hal ini. Tak tanggung tanggung ketika melakukan seminar akhir di Jakarta para peserta diklat kepemimpinan tersebut mendatangkan Hermawan Kertajaya yang merupakan penulis pemasaran terkenal sebagai narasumber utamanya.
Perjalanan terakhir kami adalah ketika menghadiri Festival Salju di Sapporo, Hokaido Jepang di bulan Februari tahun 2012. Kami bersama tim Indonesia mengikuti Kontes Patung Salju Internasional.
Terdapat 19 tim dari berbagai negara dan kawasan di dunia termasuk Indonesia yang ikut serta. Mereka menampilkan patung-patung salju yang menarik dan mewakili ciri khas masing-masing negara. Tim Indonesia membuat patung salju seorang wanita yang tengah menenun cual.
Cual adalah kain tenun seperti songket yang digunakan sebagai pakaian tradisonal para wanita di Muntok, kota kecil di Kabupaten Bangka Barat. Tim Indonesia ingin memvisualisasikan kekuatan wanita dengan patung ini. Kami berangkat antara lain karena jasa almarhum Agus Tarmidzi dalam meyakinkan PT Timah untuk menjadi sponsor ketika itu.
Agus Tarmidzi didaulat sebagai ketua tim Indonesia yang beranggotakan delapan orang. Saya bersama Nazalyus yang saat itu menjabat sebagai Kepala Bappeda Provinsi bertugas menjadi official tim.
Karena hubungan yang sangat baik dengan kedutaan Indonesia di Jepang, kami selalu mendapatan pelayanan yang menyenangkan ketika berada baik di Kota Sapporo maupun saat mampir di Tokyo.
Bahkan di Sapporo kami sempat dijamu makan malam oleh Duta Besar Muhammad Lutfi, mantan kepala BKPM dan mantan Menteri Perdagangan dan di zaman SBY dan Joko Widodo.
Dari segi waktu sebenarnya sudah hampir tak mungkin bagi tim ketika itu untuk berangkat ke Jepang. Urusan administrasi dan keuangan ternyata menyita banyak waktu dan energi.
Namun dengan gaya yang tenang semua ternyata bisa diatasi oleh Pak Agus Tarmidzi. Termasuk bagaimana ia berjuang agar kami bisa memperoleh visa. Di hari terakhir persiapan ke Jepang tiket berhasil ada di tangan dan tim bisa berangkat ke Sapporo Jepang.
Beliau sempat mengeluhkan minimnya anak-anak muda asal Bangka Belitung yang berkarir di Kementerian Luar Negeri. Karena itu ia mengusulkan untuk dapat mengunjungi sekolah-sekolah yang ada di Bangka Belitung guna menginspirasi para pemuda untuk jadi diplomat.
Sayangnya gagasan yang diusulkan tersebut tak jadi terwujud karena berbagai kendala yang dihadapi. Akan tetapi warisan semangat kerjanya yang luar biasa dari Agus Tarmidzi akan selalu menjadi kenangan yang sangat menginspirasi. Semoga Almarhum mendapatkan tempat yang terbaik. Allahummafighlahu warhamhu wa afihi wa’fu anhu.
Yan Megawandi, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan & Pemerhati Budaya Babel
