Oleh: Yan Megawandi

Pagi itu masih basah. Kami mendarat di Jakarta di bawah rintik hujan yang terus mengawal perjalanan sampai ke Depok. Universitas Indonesia dipeluk dingin pagi. Kami sedang mendampingi Batman, maestro Campak Dalong asal Desa Bhaskara Bhakti, Tanah Merah, Kabupaten Bangka Tengah, menghadiri acara seminar berjudul “Nyanyian si Penjaga Syair (Batman, Maestro Seni Tradisi Campak Dalong) di kampus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Senin 28 Februari 2011.

Seminar pagi itu diselenggarakan oleh Jurnal Wacana UI, menampilkan empat orang pembicara: Prof. Dr. Pudentia, MPSS (Ketua ATL), Henny Saptatia (pembuat film dan dosen IKJ), Yan Megawandi (Kadisbudpar Provinsi Babel), Jugiarie Soegiarto (pengkaji film dokumenter).

Namun tak pelak lagi seorang Batman lah yang berhasil menghidupkan dan menghangatkan suasana ruangan seminar melalui suara dan tingkahnya.

Dengan polos misalnya, sang maestro ini menimpali penjelasan para nara sumber yang sedang membahas tentang peran pentingnya menjaga keberadaan salah satu milik berharga dari Suku Sawang atau Suku Sekak yang sering pula disebut dengan Suku Laut, yaitu kebudayaan.

Celetukan Batman ketika itu benar-benar segar dan alami yang membuat seisi ruangan tersenyum. Apalagi ketika sebuah film dokumenter mengenai dirinya ditayangkan. Dalam sebuah adegan di mana terlihat ia bernyanyi, maka secara spontan Batman pun ikut bernyanyi dengan lantang di ruangan itu.

Baca Juga  Rudiyanto, Berkah dari Marbot Menjadi Tenaga Pendidik

Kenangan indah bersama Batman di Universitas Indonesia itulah yang terlintas ketika mendengar berita akan kepulangan mendiang di hari ke-28 Ramadan 1446 H., yang bertepatan dengan hari Jumat, penghulu segala hari. Batman sejatinya merupakan seorang tokoh kebudayaan Kepulauan Bangka Belitung dalam beberapa dekade terakhir.

Berita tentang kepergian Batman juga mengenangkan tentang sebuah film. Judulnya “The Last of the Mohicans”. Film petualangan sejarah yang dirilis tahun 1992 ini disutradarai oleh Michael Mann dan dibintangi oleh Daniel Day-Lewis.

Diadaptasi dari novel klasik karya James Fenimore Cooper dengan judul yang sama, the Last of the Mohicans bukan hanya tentang kisah cinta dan peperangan, tapi juga refleksi mendalam tentang identitas, keberanian, dan kehilangan budaya. Melalui visual yang indah dan karakter yang kuat, film ini menyampaikan pesan tentang apa artinya menjadi manusia di tengah zaman yang brutal dan berubah cepat.

Sosok Batman juga memiliki penggambaran yang hampir serupa. Bukan tentang perang dengan asap dan mesiu, tetapi ia adalah elegi tentang identitas yang tergerus, cinta yang melampaui batas, dan budaya yang nyaris sirna dalam arus zaman.

Baca Juga  Membuka Kelumus, Merawat Ingatan

Saya lupa kapan pertama kali berjumpa dengan Batman. Tetapi yang sangat membekas adalah bagaimana ia dan kelompoknya berhasil memeriahkan acara malam penutupan Temu Sastra Indonesia (TSI) di sekitar pertengahan tahun 2009.

Ketika itu Batman berhasil mengajak semua peserta untuk ikut serta menari dan bernyanyi mengikuti irama lagu-lagu yang dinyanyikannya. Malam itu ia tampil sebagai bintang di acara penutupan yang dihadiri para sastrawan tanah air.

Sebenarnya nama aslinya adalah Rianto bin Salim. Namun sebagaimana kebiasaan orang tua pada zaman dahulu bila anak sering sakit-sakitan maka dianggap nama yang disandang perlu diganti karena tidak cocok dengan pemiliknya.

Demikian pula dengan Rianto. Karena sering sakit maka oleh orang tuanya ia kemudian dipanggil Bat. Tanpa embel-embel lainnya. Bat yang tumbuh menjadi pemuda rupanya termasuk kategori anak yang suka berkelahi di kampungnya.

“Kebetulan menang terus kalau berkelahi. Sekitar tahun 1963, saya sering nongkrong dengan kawan-kawan di Bioskop Gunung Tajam di Tanjung Pandan, Belitung. Nah, waktu itu ada film Batman yang diputar. Kawan-kawan pun memanggil saya dengan nama Batman. Tapi, saya minta jangan dilafalkan betmen, batman saja,” katanya tertawa, sebagaimana yang dikutip dari https://tokoh.id/biografi/5-wiki-tokoh/maestro-campak-dalong/.

Baca Juga  Bundaran Satam

Sebagai anak Suku Laut atau Orang Laut, mengembara adalah hal yang lumrah. Ia dan teman-temannya bahkan pernah ikut menyelundupkan timah sampai di Singapura. Namun malang mereka ditangkap di Johor. Bersama 12 orang temannya di tahun 1968, Batman ditangkap petugas imigrasi Malaysia di perairan antara Kota Tinggi dan Johor.

Menurut penuturannya, ia pun terpaksa harus mendekam di penjara selama 2 tahun 6 bulan. Namun karena salah seorang hakim yang mengadilinya ternyata adalah orang keturunan Suku Laut. Sang hakim pun maklum bahwa orang laut tidak mengenal adanya batas wilayah di laut. Jadilah kemudian Batman mendapatkan keringanan hukuman hanya tujuh hari saja.

Karena itu Batman meminta agar semua teman-temannya mengaku sebagai orang Suku Laut. “Saya suruh teman-teman saya mengaku juga sebagai Orang Laut agar hukumannya sama,” katanya terkekeh. Seperti yang ditulis di https://tokoh.id/biografi/5-wiki-tokoh/maestro-campak-dalong/ .

Salah seorang sahabat Batman di Pangkal Pinang adalah Engkus Kuswenda. Lelaki kelahiran Majalengka Jawa Barat ini pernah menjabat cukup lama sebagai Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.