Batman si Penjaga Syair Terakhir
Bersama dengan beberapa tokoh kebudayaan di Bangka Belitung serta Lembaga Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) mereka mengusulkan agar Batman yang dedikasinya luar biasa bagi pelestarian dan pengembangan kebudayaan lokal di tetapkan sebagai Maestro Campak Dalung. Setelah melalui pengujian administrasi dan peninjauan ke lapangan oleh tim dari Direktorat Jendral Kebudayaan, maka Batman kemudian ditetapkan sebagai Maestro.
Dalam perkembangan terakhir setelah memperoleh predikat sebagai maestro, ia masih terus melestarikan kesenian Campak Dalong. Rumah, halaman, dan para tetangga yang sebagian besar merupakan kalangan kerabatnya sendiri adalah saksi bagaimana perjuangan Batman yang tak lekang oleh waktu.
Pada waktu-waktu tertentu ia melatih dan mengajari anak-anak muda di kampungnya kesenian warisan leluhurnya. Mereka ini nantinya diharapkan dapat meneruskan kesenian warisan orang laut yang masih tersisa.
Di tengah keadaan tubuhnya yang semakin ringkih, pendengarannya pun telah banyak berkurang, ia tak lagi bisa banyak berbuat. Bila dulu ia masih bisa menjadi andalan keluarga dalam mencari nafkah, maka di saat-saat akhirnya ia benar-benar lebih banyak tinggal di rumahnya.
Ia dan kaumnya sempat terpukul ketika di suatu masa mereka tak lagi di dukung oleh pemerintah daerah setempat untuk melaksanakan upacara Buang Jong dengan alasan bertentangan dengan akidah. Jadilah pada tahun itu tidak ada upacara Buang Jong di daerah itu.
Padahal selama ini upacara tersebut dilakukan sebagai budaya dan sebuah bentuk kearifan lokal yang telah turun temurun dilaksanakan dan mendatangkan rasa tenteram di kalangan mereka. Menghadapi kondisi tersebut mereka hanya mampu berdiam diri karena merasa tak mampu berhadapan dengan pemerintah daerah.
Walaupun di tempat lain kegiatan kebudayaan serupa tetap dilestarikan bahkan dijadikan semacam kalender kebudayaan yang menjadi perhatian banyak orang.
Karena kekhawatiran akan hilangnya kebudayaan Suku Sekak ini, seorang peneliti asal Jepang, Profesor Akifumi Iwabuchi pernah memprakarsai pembentukan organisasi persatuan Suku Sekak yang merupakan penduduk asli Bangka Belitung.
Berikut cuplikan berita yang ditulis LKBN Antara Jumat, tanggal 9 November 2012 silam. “Kebudayaan Suku Sekak di Bangka Belitung sudah 70 persen hilang, jumlah mereka hanya sekitar 900 orang dan itu sudah merupakan campuran dengan Suku Melayu atau yang lain, oleh sebab itu pembentukan persatuan ini penting dilakukan,” kata Iwabuchi di Tanjungpandan, Belitung.
Iwabuchi menjelaskan, dengan dibentuknya organisasi persatuan Suku Sekak, diharapkan mereka dapat saling mendukung dalam melestarikan adat dan budaya mereka. “Banyak generasi muda Sekak mengatakan pada saya mereka ingin belajar budaya asli Sekak tapi sayangnya mereka tidak dapat menemukan guru atau tetua yang dapat mengajari mereka,” kata dia.
Alumni Fakultas Sosial Antropologi, Universitas Oxford dan professor bidang antropologi maritim dan arkeologi nautikal di Tokyo University of Marine Science and Technology, sekaligus perwakilan ICOMOS Jepang itu menjelaskan bahwa tinggal 20 persen dari sekitar 900 orang Suku Sekak yang bisa berbahasa Sekak.
Padahal ada semboyan yang sering kita dengar bahwa “Bahasa menunjukkan bangsa”. Semboyan yang berasal dari pepatah Melayu ini bermakna bahwa bahasa yang digunakan seseorang dapat mencerminkan identitas, asal-usul, dan latar belakangnya.
Lalu bila hanya tinggal segelintir saja dari sebuah suku yang mampu berbahasa tersebut, apa sebenarnya yang sedang terjadi? Kita sedang menjadi saksi hilangnya sebuah kebudayaan dari muka bumi. Walaupun selama ini ia hidup dan berada di Kepulauan Bangka Belitung.
Batman kini telah berpulang. Kita seolah sedang melepas suatu perjalanan panjang sebuah perahu atau “Kulek Terakhir”, sebagaimana judul sebuah buku menarik yang menggambarkan komunitas Suku Orang Laut atau Sekak atau Sawang yang ditulis Wahyu Kurniawan (2016).
Dari sosok seorang Batman kita seolah-olah menemukan kehormatan dalam kepedihan di kehidupan pejuang terakhir Suku Sekak ini. Batman dan kaumnya adalah orang-orang yang berdiri tegak saat sejarah menundukkan yang lainnya.
Kita juga tak mengetahui apakah ia menyadari sepenuhnya bahwa ia menjadi bagian penting perjalanan kaumnya menapaki hari-hari terakhir berpisah dengan budaya dan kearifan lokal yang selama ini memeluknya.
Di deburan ombak yang menyusuri pantai, di tengah hutan yang tak pernah lelah bernyanyi, laut dan sungai yang tak henti mengalirkan sejarah, kehadiran Batman selama ini seolah telah menghadirkan sebuah kisah yang lebih dari sekadar perlawanan atau cinta dalam cara hidup dan kehidupan.
Ia adalah senandung nyanyian perpisahan bagi dunia yang sedang tenggelam, dunia para penjaga laut, pantai dan hutan, penutur angin, dan pejuang yang menyatu dengan tanah. Selamat jalan Bat! Salam Takzim.
Penulis merupakan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung.
