Oleh: Yan Megawandi

Minggu lalu, sempat membaca berita mengenai dibentuknya Forum Corporate Social Responsibility (CSR) di Bangka Selatan. Pj. Sekda Bangka Selatan, Hefi Nuranda menyatakan bahwa forum ini dimaksudkan sebagai upaya mendorong, mengoordinasikan, memfasilitasi, dan menyinergikan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan badan usaha.

Apa yang dilakukan oleh Pemda Bangka Selatan dirasakan sebagai hal yang cukup strategis di tengah-tengah kegelisahan banyak pihak mengenai ketersediaan pendanaan pasca upaya pemotongan anggaran yang dilakukan oleh pemerintah pusat.

Imbasnya sangat terasa di daerah. Gubernur Riau misalnya telah mengumumkan kondisi keuangan mereka. Untuk diketahui, defisit anggaran Riau mencapai Rp 1,3 triliun ditambah dengan tunda bayar Rp 2,2 triliun. Jika ditotalkan, menjadi Rp 3,5 triliun. Sampai saat ini kondisi tersebut merupakan hal baru yang belum pernah terjadi selama ini.

Daerah lain juga tak sedikit yang mengalami kesulitan dalam pengelolaan keuangannya. Termasuk di Bangka Belitung yang ditambahi beban sebagai daerah dengan angka pertubuhan ekonomi paling rendah saat ini. Beberapa daerah sudah berusaha memangkas berbagai belanja termasuk belanja modal guna mengatasi masalah ini.

Baca Juga  Kembali ke Dunia Pendekar

Di tengah situasi efisiensi anggaran yang sedang gencar dilakukan pemerintah, banyak yang pesimis. “Dana terbatas, bagaimana mau membangun?” begitu keluh kesah yang sering kita dengar. Tapi, justru di saat seperti inilah kreativitas dan kolaborasi harus diutamakan.

Kita tidak bisa terus bergantung sepenuhnya pada APBD atau APBN. Ada sumber daya lain yang selama ini mungkin terabaikan: CSR dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di daerah.

CSR, atau tanggung jawab sosial perusahaan, sebenarnya bukan hal baru. Tapi, selama ini program CSR seringkali berjalan sendiri-sendiri, tidak terintegrasi dengan kebutuhan riil masyarakat atau program pemerintah. Padahal, jika dikelola dengan baik, CSR bisa menjadi solusi ampuh untuk mengisi celah anggaran yang terbatas.

CSR sering dipahami sebagai sumbangan atau bantuan sosial. Padahal, esensi CSR jauh lebih besar dari pada itu. CSR adalah tentang kolaborasi. Perusahaan punya sumber daya seperti uang, teknologi, jaringan, dan SDM yang semuanya bisa dimanfaatkan untuk membangun daerah.

Baca Juga  Darurat Pornografi, Krisis Moral, Lunturkan Nilai Adab 

Sementara, pemerintah dan masyarakat punya pemahaman mendalam tentang kebutuhan lokal. Jika kedua pihak ini bersinergi, hasilnya bisa jadi luar biasa.

Ada sebuah cerita menarik dari sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Beberapa tahun lalu, desa itu hampir tak punya harapan. Jalan-jalannya rusak parah, listrik sering padam, dan air bersih sulit didapat. Tapi, suatu hari, datanglah sebuah perusahaan besar yang membuka pabrik di dekat desa itu.

Mereka tidak hanya membawa investasi dan lapangan kerja, tapi juga program CSR. Dalam hitungan bulan, jalan desa diperbaiki, listrik stabil, dan air bersih mengalir lancar. Desa itu pun berubah. Cerita ini bukan dongeng. Ini nyata. Dan inilah saatnya kita belajar dari kisah itu.

Bayangkan, sebuah perusahaan tambang di Kalimantan yang punya program CSR di bidang pendidikan. Alih-alih hanya membangun sekolah, mereka bisa bekerja sama dengan dinas pendidikan setempat untuk menyusun kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan lokal.

Ada juga sebuah perusahaan perkebunan di Sumatra yang punya program CSR di bidang kesehatan. Mereka bisa berkolaborasi dengan puskesmas setempat untuk menyediakan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat sekitar.

Baca Juga  Tren Kesenjangan Sosial dan Realita di Bangka Belitung: Sistem yang Timpang, Tersesat di Lubang Tambang

Di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ada contoh nyata bagaimana CSR bisa menjadi solusi kreatif. Perusahaan migas di sana tidak hanya membangun jalan dan jembatan, tapi juga membantu mengembangkan UMKM lokal.

Mereka memberikan pelatihan, akses pemasaran, dan bahkan pendampingan bisnis. Hasilnya? UMKM di Bojonegoro tumbuh pesat, dan perekonomian daerah pun ikut bergerak.

Di tempat lain, sebuah perusahaan telekomunikasi di Nusa Tenggara Timur memanfaatkan program CSR-nya untuk membangun jaringan internet di daerah terpencil. Hasilnya, anak-anak di desa itu kini bisa mengakses pendidikan online, dan petani bisa menjual hasil panen mereka secara digital. Ini bukan sekadar bantuan, tapi transformasi.

Kita masih menantikan banyak kisah sukses serupa yang mestinya bisa juga terjadi di Bangka Belitung. Jangan sampai program dan kegiatan CSR yang dilakukan justru lebih banyak dinikmati oleh perusahaan yang muncul dalam bentuk iklan dan pencitraan perusahaan belaka ketimbang kemanfaatannya bagi rakyat dan daerah.

Pengaturan CSR