“Iya, Bu, aku lihat Ayu masukin empek-empek ke dalam mulutnya,” tuding Rifki sambil menunjuk laci meja Ayu.

“Yang dikatakan Rifki itu benar, Yu?” Ibu Guru kembali menanyakan Ayu yang hanya diam saja, “tolong dibuang makanannya, sesuai kesepakatan kelas kita.”

“Iya, Bu, maaf.” Ayu menunduk.

Ibu Guru melihat ke buku paket, kemudian mengambil beberapa alat peraga di meja untuk menjelaskan tentang volume. Setelah itu bertanya kepada Ayu.

“Sudah dibuang makanan yang dimakan?” cecar Bu Guru.

“Sudah, Bu,” jawab Ayu.

“Mana ada, Ayu belum membuangnya, Bu!” ujar Tama.

“Eh, udah, ya!” bela Ayu sambil menunjukkan mulutnya yang telah kosong dari empek-empek.

“Emang kamu buang ke mana, Yu, empek-empeknya?” tanya Bu Guru.

Baca Juga  Musim Berganti

“Ke lambung, Bu. Ditelan,” ujar Ayu sambil nyengir.

“Itu bukan dibuang, tapi dimakan!” ujar anak-anak hampir serempak.

“Y, kan dibuang ke lambung lebih bermanfaat,” kata Ayu membela diri.

Ibu Guru pun menasihati Jangan sampai makan di dalam kelas lagi. Karena membuang makanan ke lambungnya, perbuatan Ayu tetap dicatat sebagai pelanggaran pasal dilarang makan di dalam kelas. Membuang makanan ke lambung disebut juga proses memakan makanan, kata Bu Guru menutup wejangannya.