Satu orang yang mengenakan pakaian dinas itu, menampar wajah Asnadi dua kali. Begitu pula bagian paha Asnadi yang dicambuk pakai selang. Lalu, saat itu, tangan juga diikat menggunakan lakban dan kedua matanya ikut ditutup dengan lakban.

“Dari itu saya dibantai, semakin sore semakin ramai, ada yang datang bilang, ada makanan. Saya berpikir sudah mati hari itu, seluruh badan dipukul, sampai sekitar jam delapan malam, nggak satu satu lagi yang mukul,” bebernya.

“Pakai sepatu, pasti tentara itu, karena cuma dia lah yang pakai sepatu. Saya juga dengar kalau mati, cor saja (tubuh korban) isi di dalam drum, cuma tidak tahu karena mata diikat. Berenti dipukul, pas mau dibawa ke polsek. Darah dari mata, mulut disumpal pakai plastik,” ungkapnya.

Baca Juga  Raih 139 Suara, Prabowo-Gibran Menang Telak di Rutan Mentok

Ia mengatakan, saat dibawa ke Polsek Mentok dan kedua matanya dibuka, 10 orang lebih yang ada di hadapan Nadi.
Kala itu, ia mengaku badan sudah dalam kondisi tidak berdaya dan benar-benar lemas.

“Yang seragam satu orang di sana dan yang lain baju biasa. Sampai polsek, saya tidak diterima lagi, karena sudah babak belur, karena mungkin takut saya mati di sana. Terus dibuat surat perjanjian damai, diancam saya. Sama Tentara tadi,” ujarnya.

“Nama yang ada disurat damai dipakai atas nama sopir, sama 2 orang itu. Setelah tanda tangan damai, baru saya dipulangan setengah 2 pagi, sudah babak belur. Di situ tahu nama tentara itu AL. Masih muda orangnya,” ujar dia.

Baca Juga  Pasca Insiden Bocah Tenggelam di Pantai Batu Rakit, Ini Tindakan Disbudpar Bangka Barat