Daisy, Kapan Nikah?
“Lah emang mau ada acara apa?” tanya bulek heran.
“Besok bawa calon yang mbak rasa cocok sama Daisy,” ujar Ibu yang masih kedengaran sampai telingaku. Waduh, bisa gawat darurat ini. Putus cinta, perjodohan bertindak.
“Oke siap, mbak pulang dulu.”
“Eh Bulek, jangan dibawa kesini. Aduh Ibu, kok ngomong gitu toh? Daisy bisa cari sendiri, nanti apa kata orang kalau semua anak ibu dijodohin. Kayak enggak bisa cari sendiri aja,” keluhku yang langsung berlari keluar kamar.
“Ini itu hidup kamu, ngapain harus mikirin pendapat orang lain,” kata ibu berjalan acuh meninggalkanku.
“Mandi sana, Jangan lupa diberesin kandangnya,” sindir ibuku.
“Ihh, Kandang dari mana coba?” teriakku uring-uringan.
*
“Dai, ambilkan tehnya itu,” suruh ibu sambil menunjuk teh di atas meja dapur.
“Males Bu,” ujarku lemas.
“Eh anak perempuan disuruh kok gitu. Pantesan enggak dapat-dapat jodoh,” celetuk Mas Damar, saudaraku satu-satunya. Ia mengambilkan teh dan memberikannya ke Ibu.
“Bisa diam enggak yang dapat jodoh lewat perjodohan?” ujarku menyindir.
“Lah enggak apa-apa, dari pada jomblo,” Mas Damar menjulurkan lidahnya.
“Asem kamu mas!” Aku melemparinya kulit kacang. Ibu langsung menjewer telingaku.
“Disuruh nyapu males, tapi suka banget ngotorin lantai.”
“Cuma satu aja Bu, lagian Mas Damar usil banget sama adiknya sendiri,” ujarku membela diri.
“Bu, kata bulek tamunya udah datang. Ibu sama Daisy keluar aja dulu. Biar Nias yang menyiapkan makanannya,” ujar Mbak Nias, istri Mas Damar.
“Duh Bu malu ah,” ujar ku merengut.
“Eh, ibu udah undang masa enggak kamu temui, ayo keluar,” ibu menarik tanganku. Aku menengok ke arah Mbak Nias meminta pertolongan, ia malah mengedipkan sebelah matanya. Suami sama istri sama-sama nyebelin, pantesan jodoh.
Terlihat bulek sedang mengobrol dengan perempuan paruh baya. Hanya ada tiga tamu, tetapi ibu masak seperti orang mau hajatan.
“Ini toh yang namanya Daisy, cantik ya seperti namanya,” ujar perempuan paruh baya tersebut ketika aku menyalaminya.
“Iya Mbak, gimana cantikan keponakanku. Mas Bayu bisa kenalan dulu mungkin dengan Daisy. Harap maklum ya, Daisy ini agak pemalu orangnya,” ujar bulek menyenggol lenganku.
“Apaan sih Bulek, kenapa ngomong gitu,” bisikku pelan.
“Aww, Ibu sakit,” ujarku setengah berteriak. Aku mengelus pahaku yang dicubit ibu. Bukannya minta maaf, ibu malah cengengesan tidak jelas.
“Kalau malu ngobrol di depan orang tua, bisa diajak ke taman samping rumah Dai,” ujar Ibu tersenyum manis ke arahku. Duh, pencitraan sekali ibuku.
“Ibu janji, kalau kamu mau serius menikah ibu enggak akan main Facebook lagi,” bisik ibu yang membuatku melotot tak percaya.
Demi apa? Akhirnya, aku terbebas dari postingan-postingan alay ibu di Facebook. Alhamdulillah.
“Mari Mas, tamannya ada di samping rumah,” ajak ku langsung berdiri.
Orang yang diketahui bernama Bayu itu berdiri mengikuti ku.
Tibanya di taman, aku langsung mendudukkan tubuhku di kursi yang memang sengaja disiapkan di sana untuk bersantai di sore hari.
“Nama saya Daisy, umur saya tiga puluh tahun dua hari yang lalu. Enggak bisa masak, enggak bisa nyuci baju, nyuci piring, ganti seprai, nga–”
“Saya cari istri, bukan cari pembantu,” ujarnya memotong pembicaraanku yang belum selesai. Hei, tidak sopan sekali. Tapi tunggu, apa katanya??
“Ini maksudnya Mas enggak mempermasalahkan saya yang enggak bisa beres-beres rumah?” tanyaku memastikan. Ya siapa tau salah dengar gitukan.
“Iya. Beres-beres rumah itu bukan hanya tugas seorang istri, melainkan suami juga harus ikut membantu,” jawabnya yang membuatku melongo. Hei, dapat dari mana bulek menemukan orang ini. Kenapa baru sekarang dikenalkan dengannya?
“Saya sudah tau mbak sejak baca CV Mbak. Selain itu, saya dengar dari anak kantor mbak anaknya baik, suka menolong walaupun dirinya sendiri lagi sibuk.”
“Mas udah lama kenal saya lewat CV? CV apa Mas? Kok saya enggak kenal ya? Kenal di mana Mas?” tanya ku penasaran.
“Saya pemilik perusahaan di tempat Mbak kerja.”
“Demi apa? Mas ngaku-ngaku kan? Eh Mas, bos saya itu namanya Albany, terkenal galak terus pelit sama karyawan. Saya aja enggak pernah ketemu sama bos saya, takut buat ulah langsung dipecat,” ujarku memberitahunya dengan percaya diri.
“Tapi saya beneran bosnya Mbak. Nama saya Albany Bayu Ahmad. Kalau di kantor, biasa dipanggil Albany. Tetapi, di rumah dipanggil Bayu,” ujarnya yang membuatku langsung berdiri dari tempat dudukku.
“Bercanda deh Masnya, hahaha lucu,” aku tertawa garing.
“Ini kartu nama saya kalau Mbak tidak percaya,” ujarnya memberikannya kepadaku.
Badanku terasa lemas. Jadi ini benar bosku. Kenapa aku bisa tidak tau, apa mungkin karena aku baru bekerja tiga bulan dengannya. Selama ini aku juga tidak mengikuti jika ada meeting, jadi aku tidak pernah bertemu dengannya. Duh, Mati aku. Masa nolak bos sendiri, gimana nasib kerjaanku yang baru beberapa bulan bekerja.
“Mas beneran suka sama saya?” tanya ku memastikan sekali lagi.
“Bukan hanya sekadar suka, melainkan serius mengajak Mbak Daisy ke jenjang pernikahan” ujarnya meyakinkanku.
“Saya pemalas lho.”
“Saya banyak uang kok.”
“Lho, apa hubungannya Mas pemalas sama uang?” tanyaku heran.
“Ya kalau Mbak malas beres-beres rumah, nanti tinggal cari asisten rumah tangga aja,” celetuknya.
Sultan mah bebas ya. Duh, mimpi apa aku semalam diajak nikah sama sultan, mana bos sendiri lagi.
“Kalau Mas yakin, bismillah saya juga yakin,” ujarku dengan yakin.
“Alhamdulillah, mari kita beritahukan kabar baik ini ke keluarga kita,” ajaknya sambil tersenyum.
“Mas ini beneran kan? Bukan Prank?” tanyaku memastikan.
Dia tertawa sampai terlihat giginya yang putih berseri. Duh, ganteng banget.
“Mana mungkin saya nge-prank, sudah ayo masuk ke rumah,” ujarnya masih dengan sisa-sisa tawanya.
Aku mengikuti di belakangnya dengan wajah yang setengah tak percaya. Ini aku beneran diajak nikah? Pakai jalur perjodohan lagi, kena hukum alam aku kayaknya akibat suka mengejek Mas Damar. Eh tapi Alhamdulillah, enggak jomblo lagi. Hahaha, Selamat tinggal tetangga-tetangga julid yang selalu tanya “Daisy, Kapan nikah?”
Selesai

Khoiriah Apriza, alumnus SMAN 1 Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan yang baru saja menyelesaikan pendidikannya. Ia akan melanjutkan kuliah ke IAIN SAS Bangka Belitung. Khoiriah telah menulis beberapa buku antologi dan satu buku solo berjudul Ayah, Aku Rindu.
